Diksar CUBG di Bantargebang

Minggu, 27 Mei 2012. Udara pagi di pinggiran Bekasi begitu segar. Mendekati Bantargebang aroma sampah mulai tercium. Puluhan orang yang penuh semangat telah memadati kompleks Sekolah St. Lusia. Mereka adalah anggota-anggota baru Credit Union Bererod Gratia. Mereka telah siap untuk belajar dalam Pendidikan Dasar (Diksar). Diksar adalah salah satu jenis pendidikan yang harus diikuti oleh anggota baru. Dalam Diksar, peserta diajak menyadari eksistensinya sebagai warga masyarakat. Setelah sadar, peserta diajak memahami situasi sosial yang ada. Menerima realitas sosial itu. Kemudian mengerti dan memahami sejarah Credit Union.

Pemaparan sejarah yang terasa segar karena disampaikan dengan penuh komunikatif oleh pak Purwanto. Peserta yang antusias ternyata membuat fasilitator menjadi makin semangat. Kemudian Pak Dion mengajak peserta untuk belajar menyusun Anggaran dan Belanja Keluarga. Pemaparannya sangat menarik. Peserta terlihat paham dan antusias. Nyatanya, dengan sukarela peserta mau mensharingkan anggaran dan belanja yang mereka susun di hadapan forum.

Peserta semakin semangat ketika menerima penjelasan mengenai pola kebijakan CUBG. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Fasilitator dengan semangat menjawab semua pertanyaan. Peserta nampak puas, mesti mungkin belum paham sepenuhnya.
Akhirnya, tibalah akhir acara. Semua peserta dinyatakan lulus Diksar. Mereka layak mendapatkan sertifikat.

Selamat untuk anggota baru. Mari kita bersatu membangun CUBG. Selamat berjuang untuk kesejahteraan.

Credit Union Microfinance Innovation (CUMI)

Mengantar orang miskin menjadi anggota CUBG dan

Membantu CUBG menjangkau orang miskin

Latar Belakang

Menurut data pemerintah Indonesia, mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan sejumlah 37 juta. Angka ini diambil dari pendapatan Rp 166,697 per kapita per bulan atau US$ 0,58/hari. Menurut Bank Dunia, mereka yang pendapatannya US$ 1 per hari, jumlahnya lebih dari 63 juta. Sedang jika memakai garis kemiskinan moderat Bank Dunia sebesar US$ 2 per hari, jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 126 juta jiwa atau sekitar 50% dari jumlah penduduk 230 juta.

 

Kebanyakan dari golongan miskin ini mempunyai usaha kecil. Namun mereka tidak mempunyai akses pada lembaga keuangan formal. Hadirnya sekitar 50.000 lembaga kredit mikro belum cukup mampu menjangkau kebutuhan mereka.

Credit Union Bererod Gratia (CUBG) bercita-cita dan berpotensi untuk membantu anggotanya untuk meningkatkan kesejahteraan. Meskipun sudah ada produk pinjaman kapitalisasi sebesar Rp 2.000.000 yang memungkinkan orang dengan penghasilan rendah menjadi anggota CUBG, namun kewajiban untuk melunasi pinjaman tersebut tetap dirasa berat oleh kelompok miskin. Akibatnya pelayanan CUBG sulit menjangkau kelompok yang sungguh miskin. Padahal mereka butuh tambahan modal supaya dapat meningkatkan omset usaha.

Untuk menjawab persoalan itu, para aktivis CUBG Blok Q, bekerjasama dengan PSE Paroki Santa Perawan Maria Ratu, merancang Program Inovasi Keuangan Mikro Credit Union (IKMCU) atau dalam bahasa Inggris Credit Union Microfinance Innovation (CUMI). Dengan memberikan pinjaman modal tanpa agunan kepada para anggota, CUMI diharapkan dapat mengantar masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan dan tabungan. CUMI tidak lain merupakan persiapan untuk menjadi anggota CUBG. Setelah lulus dari program CUMI dan menjadi anggota CUBG, mantan anggota CUMI akan memperoleh banyak keuntungan sebagai anggota CUBG seperti memperoleh pinjaman dalam jumlah yang lebih besar, menabung dengan balas jasa simpanan tinggi dan perlindungan pinjaman serta asuransi jiwa.

VISI

Semua orang miskin di Paroki Blok Q menjadi anggota CUBG

MISI

Program Inovasi Keuangan Mikro Credit Union (CUMI) mempunyai misi untuk memberikan pelayanan keuangan mikro (pinjaman dan tabungan) bagi para usahawan kecil dan mengarahkan mereka menjadi anggota Credit Union Bererod Gratia.

STRATEGI

Supaya mampu melayani dan mendampingi para peminjam secara intensif dan professional, sederhana dan cepat, CUMI digerakkan oleh Tim tersendiri. Tim ini mempunyai kewenangan untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi program-program kerja CUMI. Ia juga mempunyai kewenangan untuk melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk mendukung visi dan misi CUMI.

 

SUMBER PENDANAAN

CUMI mencari sumber pendanaan dari anggota, lembaga lain maupun donatur/investor per orangan. Tabel berikut merupakan skema pendanaannya.

Sumber Pendanaan

Balas Jasa

A. Anggota

10% per 12 bulan

B. Donasi perorangan atau Lembanga Lain

0%

C. Pinjaman Lembaga Lain

Sesuai perjanjian

D. Pinjaman filantropi perorangan

0%

BESARAN PINJAMAN DAN BUNGA

Pinjaman diberikan dengan model tahapan antara Rp 500.000 sampai Rp 3.000.000. Peminjam yang memiliki catatan tabungan dan pengembalian pinjaman yang baik mempunyai jaminan mendapatkan pinjaman yang lebih besar.

1.    Pinjaman diberikan tanpa agunan

2.    Jangka waktu peminjaman antara 10-20 minggu

3.    Bunga pinjaman sebesar 0.5% per minggu tetap (5% 10 minggu atau 10% 20 minggu)

4.    Setoran dilakukan mingguan (7 hari)

5.    Biaya pelayanan 2%

6.    Lewat 5 hari dikenai denda 3% dari cicilan dan bunga

Pinjaman

Jumlah Pinjaman

Bunga

Pinjaman 1

Rp 500.000

10% dalam 20 minggu

atau

5% dalam 10 minggu

Atau

0,5% per minggu

 

Pinjaman 2

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 3

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 4

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 5

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

TARGET PEMINJAM

1.    Pinjaman diberikan untuk kegiatan usaha saja

2.    Calon peminjam berpendapatan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan

3.    Tidak punya akses pada lembaga keuangan formal

4.    Peminjam punya usaha produktif

5.    Calon peminjam yang belum mempunyai usaha dapat memperoleh pinjaman dengan syarat bergabung dalam satu kelompok yang minimal dua anggotanya sudah punya usaha.

6.    Peminjam perempuan mendapat prioritas

 TAHAP-TAHAP PEMINJAMAN

1.    Calon peminjam membentuk kelompok dengan anggota 5 orang. Anggota keluarga tidak boleh berada dalam satu kelompok. Kelompok sedapat mungkin tinggal atau punya usaha di tempat yang saling berdekatan.

2.    Calon anggota menyerahkan fotokopi KTP dan KK (Kartu Keluarga) kepada Staf CUMI. Staf CUMI memberikan training selama minimal 2 jam dalam hal manajemen usaha kecil dan tata cara pelaksanaan program CUMI.

3.    Kalau berjalan baik, kelompok disahkan. Angota memilih dua orang sebagai Ketua dan Bendahara.

4.    Seminggu setelah kelompok disahkan, dua orang anggota memperoleh pinjaman pertama.

5.    Pencairan pinjaman harus dihadiri seluruh anggota dan empat anggota lain berperan sebagai penjamin.

6.    Peminjam mengangsur satu minggu setelah menerima pinjaman.

7.    Pinjaman kedua diberikan kepada dua orang berikutnya setelah pinjaman pertama diangsur secara tertib selama empat minggu.

8.    Pinjaman ketiga diberikan dua minggu setelah pinjaman kedua.

9.    Setiap anggota dapat mengajukan pinjaman baru jika pinjamannya sudah lunas dan tidak ada anggota yang lalai mengangsur.

10. Kelalaian pinjaman ditanggung renteng; pinjaman berikutnya tidak dapat dikucurkan sebelum kelalaian pinjaman diselesaikan.

11. Besar pinjaman Rp 500.000 atau 3 kali jumlah tabungan.

TABUNGAN

1.    Setiap kali menerima pinjaman, anggota wajib menabung sebesar 5% dari pinjaman yang cair.

2.    Anggota wajib menabung tiap minggu minimal Rp 2.500.

3.    Bunga simpanan 10% per tahun (pembukuan per 6 bulan)

PERTEMUAN KELOMPOK

Kelompok bertemu seminggu sekali dengan Staf CUMI untuk menyerahkan cicilan pinjaman dan tabungan, berbagi pengalaman, memberikan usulan atau pun mendapat informasi dan pelatihan dari Staf.

 ANDA INGIN TERLIBAT?

 Hubungi Para Aktivis CUBG, Blok Q

Gedung PSE Maria Fatima

Jl. Suryo 43, Kebayoran Baru

Telp 021-7246852

Pada hari Sabtu dan Minggu pk 08.00-12.00

atau

Joko Santosa           085647274073

Antonius Sumarwan 081317749527

Ada CUMI di Blok Q

Hampir semua orang tertawa atau tersenyum simpul ketika kami beritahu bahwa CU Bererod Gratia (CUBG), Blok Q, membuka program CUMI. Mereka ingat akan satu iklan di televisi yang memang lucu. Cuma mimpi? Atau Cuma minjam? Itukah yang dimaksud dengan CUMI?
Di kalangan aktivis Credit Union, CUMI sudah ada sebelum iklan tersebut populer. CUMI adalah Credit Union Microfinace Innovation. Dengan program ini CU hendak memberikan pelayanan keuangan (pinjaman dan tabungan) kepada para usahawan kecil yang ingin meningkatkan bisnisnya. Untuk konteks CUBG yang meminta anggota mempunyai simpanan cukup tinggi (Rp 2 juta) sebelum mereka dapat mengajukan pinjaman, CUMI merupakan persiapan untuk menjadi anggota CUBG.
Program CUMI CUBG Blok Q dirancang mengikuti sistem Grameen Bank, yaitu meminta calon anggota membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang. Setelah kelompok terbentuk dan anggota mendapat penjelasan tentang prosedur program ini, dua orang anggota memperoleh pinjaman Rp 500.000. Jika pinjaman ini diangsur secara teratur selama empat minggu, pinjaman untuk dua orang berikutnya dikucurkan. Dua minggu kemudian dikucurkan pinjaman untuk orang kelima.
Selama mengikuti program ini anggota diwajibkan menabungkan 5% dari pinjaman dan minimal Rp 2.500 setiap minggu. Saat pinjaman pertama lunas, anggota dapat mengajukan pinjaman baru sebesar 3 kali simpanan. Untuk simpanan anggota memperoleh balas jasa 10% per tahun, sementara pinjaman 0,5% per minggu.
CUMI Blok Q dimulai pada pertengahan September 2008. Anggota pertamanya lima pedagang yang biasa berjualan di depan gereja pada hari minggu. Mulai bulan Desember bergabung empat kelompok baru. Pada bulan Januari anggota bertambah lagi sehingga total menjadi 55 orang (11 kelompok). Mereka tersebar di daerah Kebalen dan Ciomas, Jl. Nipah dan Tegal Parang. Kebanyakan dari mereka adalah warga non-Katolik. Warga Gereja sendiri kurang berminat pada program ini, karena kesulitan membentuk kelompok, tidak punya usaha atau merasa pinjaman terlalu kecil.
Ibu Sainem yang sehari-hari berjualan rokok sangat terbantu dengan program ini. Karena modal yang ia miliki kecil, setiap hari ia mesti pergi ke pasar untuk membeli dagangan. Itu pun ia hanya bisa belanja dua sampai lima bungkus rokok. Setelah mendapat pinjaman dari CUMI, ia bisa dua hari sekali ke pasar. Ia kini dapat membeli rokok satu pak dengan berbagai merek. Warung Ibu Sainem yang hanya seukuran jendela kini dilengkapi mi instan, obat-obatan dan makanan kecil. “Lumayan, sekarang pendapatan meningkat,” tuturnya.
Hingga Januari 2009 pinjaman yang telah dikucurkan mencapai Rp 18.500.000 (untuk 37 orang); yang sudah diangsur Rp 4.500.000. Dari anggota terkumpul tabungan Rp 2.119.500. Untuk sementara, uang yang dipinjamkan CUMI berasal dari pinjaman perorangan yang mendukung program ini dan dari Seksi PSE. Kalau anggota semakin banyak, CUMI akan mengajukan pinjaman ke CUBG. Moga-moga dengan berkat CUMI, warga kecil terbantu dan dapat menyiapkan diri menjadi anggota CUBG, sementara CUBG juga semakin menyentuh orang kecil.*** (AS)foto-artikel-cumi

Statistik Credit Union Bererod Gratia per September 2008

statistik-nov-081

Seorang Guru yang Menjadi Aktivis CU

Sekadar Kata Awal

Saudara-saudariku yang pernah membaca tulisan “Oleh-oleh Pengalaman dari Kalimantan”, sebuah cerita perkembangan Credit Union di Borneo, apakabar? Saya hendak membagikan lagi keajaiban Credit Union di sana. Kali ini bukan dari Kalimantan Barat di mana 6% penduduknya sudah menjadi anggota CU, melainkan dari Kalimantan Tengah.

Kisah ini terumuskan karena pada September lalu, Dominikus D Fernandez, seorang aktivis CU Sumber Rejeki, Ampah, berkunjung ke Jakarta. Ia ingin mengisi masa liburan puasa dengan melihat perkembangan Credi Union di Jakarta, khususnya CU Bererod Gratia (CUBG) yang ikut dalam Jaringan Credit Union Kalimantan. Selama seminggu, setiap pagi Fernandez ikut ngantor di Tempat Pelayanan CUBG Jl. Matraman, 31. Sesekali ia mengunjungi tempat pelayanan lain. Ia mencermati cara pengurus dan staf CUBG bekerja dan melayani. Ia telah memberikan banyak masukan berharga.

Sekarang ini saya punya obsesi untuk mengumpulkan cerita-cerita gerakan CU di Kalimantan. Kedatangan Bapak Fernandez tentu saja merupakan peluang emas yang tak boleh dilewatkan. Meski waktu itu acara saya cukup padat, saya berhasil mencari waktu untuk berjumpa dan berbincang dengan Bapak Fernandes. Kantor CUBG Jl. Matraman menjadi tempat pertemuan kami.

Berikut ini saya sajikan hasil pembicaraan kami. Dalam tulisan berikut ini, Bapak Fernandez akan bertutur sendiri, meski sebenarnya yang menuliskannya kembali adalah saya. Pilihan ini dibuat supaya Anda dapat lebih akrab dengan Bapak Fernandez dan juga supaya tulisan lebih ringkas.

Pengalaman Bapak Fernandez tidak ubahnya percikan api. Semoga api ini menyulut dan mengobarkan Anda juga untuk secara kreatif berbuat sesuatu bagi saudara kita yang miskin.

 

Salam

  

Antonius Sumawan, SJ

Guru Yang Jadi Aktivis CU

 

 

Saya Dominikus D Fernandez, seorang katekis yang diangkat sebagai Pegawai Negeri. Saya berasal dari Larantuka. Pada usia 25 tahun saya ditugaskan mengajar di  SD III Tampa, Kecamatan Ampah, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Saya pernah punya hanya 9 murid untuk seluruh SD. Karena murid terlalu sedikit, kelas kami gabung. Dalam seminggu hanya tiga hari saya mengajar di sekolah. Karena punya banyak waktu luang, saya tergerak untuk membagikan ilmu kepada orang-orang dewasa juga.  Saya kemudian merancang program Pendidikan Orang Dewasa(POD), yang menawarkan tiga paket. Paket A untuk kesetaraan dengan SD, paket B setara dengan SMP dan paket  C setara degan SMA.

Pada 1979 saya merintis sebuah SMP Swasta di Ampah.  Setahun kemudian SMP rintisan ini dijadikan SMP Negeri. Di SMP ini selama sembilan tahun saya mengajar tanpa dibayar. Pada 2003 saya mendirikan SMA. Lagi-lagi setahun kemudian SMA ini dijadikan SMA negeri. Di sini pun selama setahun saya menjadi Kepala sekolah dan mengajar tanpa dibayar. Semuanya adalah pelayanan.

 

Bersentuhan dengan pemberdayaan   

 

Saya memang seorang guru. Namun pemberdayaan masyarakat miskin sejak awal sudah menjadi bagianp1010194 hidup saya. Sejak 1979 hingga 1990 saya menjadi pendamping nasabah Bank Purba Danarta di daerah Kalimantan Tengah. Bank Purba Danarta adalah suatu bank yang secara khusus ingin memberikan pelayanan kepada orang-orang kecil, mendampingi usaha-usaha mandiri mereka. Pendiri dan pemimpin bank ini Pastor Melchers, SJ. Kantor pusatnya di Semarang. Setelah Pastor Melchers meninggal, kabarnya terjadi perubahan manajemen bank ini, tapi saya tidak tahu persis, karena setelah 1990 saya kurang kontak lagi dengan Bank Purba Danarta.

Waktu itu saya mendampingi sekitar 1.000 orang. Ada masa ketika pelayanan kami lakukan dengan sederhana sekali. Inti dari gerakan ini adalah kepercayaan. Buku tabungan dan pinjaman anggota hanyalah buku tulis biasa. Setiap kali ada setoran diberi meterai. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena kami percaya satu sama lain.

Pada 1989 saya sempat mengikuti kursus di Lembaga Bina Swadaya. Namun saya tidak begitu tertarik mengikuti metodenya, yang menurut saya, masih belum amat menekankan unsur swadaya masyarakat. Mereka masih cukup banyak sekadar mengalihkan dana dari pemerintah kepada masyarakat.

 

Kenal CU

Selepas kursus itu saya masih terus mencari alat yang tepat untuk membantu saudara yang miskin untuk keluar dari jerat kemiskinan. Bersamaan dengan pencarian saya itu, pada 1998 Dekenat Barito, Keuskupan Banjarmasin, mencanangkan Gerakan Gereja Peduli kepada Kaum Miskin.  Kami memikirkan suatu gerakan kepedulian yang tidak sekadar memberikan bantuan kepada orang miskin terus-menerus. Kami ingin memberdayakan dan membuat mereka bangkit sendiri. Kami terus mencari alat yang efektif untuk membantu kaum miskin sekaligus membuat mereka punya harga diri dan kemudian mandiri. Bersama Pastor Yoseph Mohr MSF kami menemukan alat itu, yakni Credit Union (CU).

Aksi nyata gerakan ini baru mulai pada 1 April 1999, ditandai dengan terbentuknya Credit Union Sumber Rejeki . Benih CU baru ini ditabur di Ampah, sebuah kecamatan di Baroti Timur, Kalimantan Tengah. Sembilan belas aktivis dari empat paroki di Dekenat Ampah membangun tekad bersama untuk berbuat sesuatu.

Kami memang mulai dari yang kecil, tetapi punya impian besar. Inilah impian kami: pada 2009, 80% umat di Dekenat Barito menjadi anggota CU Sumber Rejeki. Kami pun mencanangkan satu visi bersama: CU Sumber Rejeki sebagai lembaga investasi utama rakyat.

Impian dan visi tidak berhenti pada kata dan slogan, tetapi kami tindaklanjuti dengan kerja keras. Dari kampung dan kecamatan, gerakan kami menjalar ke kota kabupaten Barito. Belum genap sepuluh tahun berjalan, pada September 2008, 18.200-an orang telah menjadi anggota CU Sumber Rejeki. Saat ini kami memiliki 13 Tempat Pelayanan dengan  48 staf purna waktu. Kini kami sudah berhasil menghimpun aset lebih dari Rp 98 milyar. Sekarang kami yakin bahwa orang-orang di Barito sebenarnya tidak miskin, melainkan hanya sulit mengatur keuangan.

 

Tantangan keluarga

Keberhasilan itu tidak muncul dari langit. Banyak tantangan yang mesti saya dan teman-teman hadapi. Dan tantangan paling awal bagi seorang aktivis CU adalah keluarga. Saya ini sudah termasuk orang yang “gila CU”. Delapan puluh persen waktu yang saya miliki saya pakai untuk CU. Tinggal 20% untuk keluarga. Siang hari saya mengajar di sekolah, sore hari masuk ke kantor CU. Kadang saya baru pulang pada pukul 01.00-02.00 malam. Tidak mengherankan kalau istri saya sempat sewot dan tidak mau membukakan pintu. 

Pernah ia bertanya dengan nada tinggi,”Kantor apa yang buka sampai tengah malam?”

“ Ini bukan kantor tapi kegiatan,” saya mencoba memberi pengertian. “Kalau kantor buka sampai jam 4, sementara kegiatan mengikuti ritme masyarakat.”

Saat pulang saya juga hanya membawa kertas-kertas laporan keuangan, bukan uang. Hal macam ini tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. Mereka berpikir bahwa bekerja di bidang keuangan, mestinya menghasilkan uang juga. Pada awal kegiatan dulu, beberapa teman sering mengejek saya, “Makan saja itu kertas-kertas.” Untunglah, dalam hal macam ini isteri saya tidak ikut-ikutan. Ia sudah tahu bahwa para pengurus CU memang tidak digaji. Kegiatan kami adalah pelayanan. Pelayanan yang harus dilakukan secara profesional.

Tantangan berikutnya muncul dari pekerjaan mengelola uang itu sendiri. Bayangkan, setiap hari Anda melihat uang milyaran milik orang lain, sementara itu dompet sendiri tipis dan uang sendiri sulit diatur. Itulah yang saya alami. Saya tidak menyangkal, bahwa ada godaan untuk memanfaatkan uang itu. Godaan ada, namun syukurlah, hingga sekarang saya kuat. Saya selalu berprinsip, “Dompet saya ada di saya. Itu uang orang, saya tidak boleh mengutak-utik.”

 

Perselisihan dengan seorang pastor

Tantangan lain yang tak pernah terlupakan adalah perselisihan saya dengan seorang pastor Deken. Dalam suatu rapat dekenat, pastor ini mencemooh dan menolak program CU. Ia bahkan juga memukul saya di hadapan para hadirin.

Saya mencoba menahan diri dan menanggapi tantangannya setenang mungkin, “Kai – saya memanggil pastor itu Kai, artinya kakek – tiga puluh tahun sudah saya mengenal Kai. Tiga puluh tahun pula Kai mengenal saya. Tidak ada lagi yang dapat kita tutup-tutupi satu sama lain. Kai, kalau boleh saya katakan, sesungguhnya kekhawatiran saya sama dengan kekhawatiran Kai, yaitu kemiskinan. Sekarang ini saya berontak terhadap sistem Kai! Tanah dibeli, rumah dibangun, anak disekolahkan, orang sakit dibayari biaya berobatnya. Itu salah! Begitu Kai pindah, umat Kai menjadi umat yang paling miskin di Dekenat Ampah ini. Saya tidak mau umat paroki yang Kai tempati sekarang ini akan menjadi umat yang paling miskin juga,” sergah saya dengan tegas.

“Saya doakan supaya kamu lenyap dari muka bumi ini,” teriak pastor itu tak kalah garang.

Saya tidak marah. Tapi saya tidak ingin memperpanjang perdebatan dengannya. “Selamat sore Pastor,” kata saya lalu beranjak pulang.

Pada pagi hari setelahnya, sekitar pukul tujuh, pastor itu menelpon,“Fernandez, saya mau bicara dengan kamu.”

“Apa yang bisa saya bantu?” jawab saya mencoba ramah. “ Tapi kalau untuk masalah CU saya tidak punya waktu bagi pastor,” lanjut saya mulai sedikit keras. “Sementara kalau untuk urusan lain, saya siap,” kata saya dengan lebih lembut.

“ Tadi malam saya tidak bisa tidur. Ada yang mau saya sampaikan.”

“ Kita bertemu jam 11 Pastor. Saya tunggu di kantor.”

 Jam 11 pastor itu sudah tiba di kantor CU. Saya segera menghampirinya  dan berbisik kepadanya, “Pastor kalau bisa, kita bicara di pastoran saja. Jangan di kantor CU, nanti ramai.”

Di pastoran sang pastor itu membuka pembicaraan, “Saya minta maaf atas kejadian kemarin… Ternyata perhatian kita sama.”

“Saya tidak dendam. Saya tidak marah. Tapi kalau urusan CU, saya tidak mau diganggu Pastor. Biarlah umat pastor terus miskin saja,” kata saya tegas.

“Saya salah…  Hari ini …,” kata pastor itu. Kutukan apa lagi ini, tanya saya dalam hati.

“Hari ini juga saya minta Bapak Fernandez tangani umat saya,“ kata pastor itu serius dan penuh keyakinan.

Sama sekali di luar dugaan. Begitu cepat pastor ini berubah. Siapa yang mempertobatkannya? Saya pun segera menanggapi permintaannya. Sore itu juga kami berangkat ke paroki yang dipimpin pastor itu. Malam harinya kami sudah bersama-sama memperkenalkan CU kepada umat. Mereka tidak tahu bahwa dua hari sebelumnya kami bertengkar karena CU.

Sekarang CU di paroki pastor ini paling berkembang. Mereka punya aset luar biasa, sekitar Rp 12-13 milyar. 

Dari pengalaman ini saya belajar. Kalau saat kita memperkenalkan CU, kita ditolak, tak perlu kecil hati. Sebaliknya, kita mesti bergembira karena kita akan berjumpa dengan calon anggota yang baik. Mereka menolak karena belum memahami semangat CU. Begitu menangkap roh CU, mereka akan menjadi anggota yang baik betul, bahkan fanatik. Berkali-kali saya mendapat pengalaman macam ini.

 

Omongan orang

Menjadi aktivis CU juga harus tahan terhadap komentar orang. Saat bekerja di kantor CU, saya tak pernah mengenakan baju hem, melainkan kaos berkerah saja. Saya pergi ke tempat kerja naik sepeda motor. Karena penampilan yang macam itu, saat saya bicara tentang kekuatan lembaga CU, banyak orang berpendidikan mencibir dan tidak percaya. Begitu masuk dan melihat laporan kami, baru mereka terkagum-kagum.

Beberapa orang juga berkomentar miring tentang tingkat perekonominan rumah tangga kami. Anda dapat menakar pendapatan saya, seorang guru dengan beberapa hektar kebun karet sebagai aset penambah penghasilan. Kami sering dibanding-bandingkan dengan para pekerja bank yang umumnya punya rumah megah dan mobil bagus. Berhadapan dengan komentar macam itu, saya bilang dalam hati, apa segala sesuatu hanya diukur dari harta benda? Tidak, kata saya. Saya memang tidak kaya, tapi saya bisa membiayai pendidikan anak saya hingga tingkat perguruan tinggi. Sebagai anggota CU, saya juga sudah punya tabungan yang cukup sebagai persiapan hari tua saya. Mau apa lagi?

 

Orang non-Katolik

Ketika kami mendirikan CU Sumber Rejeki kami bermimpi bahwa 90% umat katolik Dekenat Ampah menjadi anggota CU. Impian ini masih terus kami kejar, namun khusus untuk Paroki St Petrus dan Paulus Ampah, impian kami sudah terwujud. Dari 4.200 orang warga gereja, 90% sudah menjadi anggota CU Sumber Rejeki.

Yang di luar bayangan tetapi malah terjadi adalah bahwa lewat CU kami dapat merangkul dan membangun persaudaraan dengan warga non-Katolik. Di Ampah kami tergolong minoritas. Dari 18.200-an anggota CU Sumber Rejeki Ampah, hanya 30% anggota Katolik. Dari 70% anggota non-Katolik itu, 60% beragama Kristen Protestan, sisanya Islam dan Hindu Kaharingan. Maka kami gembira dan bangga bahwa lewat CU kami, umat Katolik, secara nyata melaksanakan perintah Yesus agar menjadi garam di tengah masyarakat.

Upaya untuk menjangkau anggota non-Katolik ini tentu bukan tanpa tantangan. Kadang saya berjumpa dengan beberapa kelompok yang alergi terhadap CU dan menghalang-halangi orang yang ingin menjadi anggota CU. Mereka bilang bahwa CU adalah lembaga orang Katolik, milik pastor.

Ketika ada orang berbicara demikian, di hadapan mereka saya mencabut uang Rp 10.000 atau Rp 50.000 dari dompet. Saya tantang mereka, “Saudara, apakah pada lembaran uang ini ada gambar mesjid atau gereja? Apakah ada gambar pastor? Begitu Saudara belanja, apakah ada orang yang bertanya itu uang dari pastor atau dari haji?”

Kalau saya tantang demikian, mereka biasanya tidak punya kata-kata lagi. Orang non-Katolik yang ingin menjadi anggota CU tetap mendaftar menjadi anggota CU. Mereka tahu bahwa CU akan memberikan banyak manfaat. 

Tentang peran CU dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, saya tidak perlu bercerita di sini. Silahkan Anda bertanya kepada para anggota CU yang Anda kenal, atau membaca kesaksian-kesaksian yang ditulis dalam Rubrik “Pancur CU” di Majalah Kalimantan Review. Pada bagian berikut, saya ingin memusatkan perhatian pada peran CU, atau lebih tepat anggota CU, dalam kehidupan Gereja.

 

Program Paroki Mandiri

Awalnya gerakan CU dirancang sebagai bentuk kepedulian Gereja kepada saudara yang miskin. Setelah gerakan ini berjalan, kami mulai merasakan nikmatnya terlepas dari jerat kemiskinan dan menghirup kebebasan finansial. Setelah dapat bangkit dan berdiri tegak dengan kaki sendiri, kami mulai bertanya, apa yang dapat kuberikan untuk Gereja?

Kami merenda impian baru mengenai Gereja. Inilah impian baru kami: pada 2012 paroki-paroki di Dekenat Barito mandiri dalam hal dana. Selama ini untuk membiayai kegiatan umat, paroki kami masih mendapat subsidi dari keuskupan. Selain mandiri dalam hal dana, kami juga ingin mandiri dalam hal tenaga. Kami akan menyekolahkan tenaga-tenaga pelayan Gereja.

Guna mewujudkan impian Paroki Mandiri ini, kami duduk bersama untuk melihat peta kekuatan umat. Kami menghitung kebutuhan paroki kita tiap bulan, lalu membuat cash flow  atau arus kas. Dari situ kami membuat skema untuk menyediakan dana yang akan menutup seluruh biaya operasional paroki.

Program ini dilaksanakan dengan fasilitas dan kerjasama dengan CU. Skema yang kami buat demikian: setiap keluarga Katolik yang sudah menjadi anggota CU meminjam Rp 1 juta ke CU. Uang pinjaman ini langsung dimasukkan ke rekening paroki. Setiap bulan keluarga itu mengangsur pinjaman itu ke CU hingga lunas. Kalau diangsur selama 24 bulan, tiap bulan satu kepala keluarga hanya mengangsur Rp 50.000. Angka ini bukan masalah untuk mereka yang sudah menjadi anggota CU satu atau dua tahun. Selama mengangsur, bahkan juga setelah angsuran lunas, warga ini tak perlu mengisi amplop sumbangan untuk Gereja. Dengan kata lain, mereka menyumbang cukup Rp 1 juta sekali untuk selamanya.

Uang paroki ini disimpan pada salah satu produk CU yang memberikan bunga 1,25% per bulan. Dalam waktu lima tahun ke depan, simpanan itu sudah akan naik 100%. Saat itu dana paroki sudah akan mencapai Rp 6 milyar. Inilah yang kemudian dijadikan sebagai dana abadi. Setelah itu paroki boleh memakai bunganya, yaitu kira-kira Rp 75 juta per bulan. Ini sudah cukup untuk membiayai semua kegiatan paroki kami. Dengan demikian, selamat tinggal amplop sumbangan untuk Gereja. Mereka yang belum jadi anggota CU, tentu saja tidak bisa ikut program ini. Apakah kepada mereka masih akan diedarkan amplop sumbangan untuk Gereja? Lihat saja nanti.

Itulah salah satu terobosan yang kami – para anggota CU – buat sebagai wujud tanggung jawab kami terhadap gereja. Program ini sudah berjalan satu tahun dan dilaksanakan oleh tiga paroki di Dekenat Ampah.

Selain program Paroki Mandiri, kami juga punya pengalaman membangun satu gereja senilai Rp 200 juta dengan memanfaatkan uang pinjaman dari CU. Skemanya mirip cara di atas. Mereka yang sudah menjadi anggota CU meminjam ke CU. Pinjaman ini atas nama beberapa orang anggota CU, karena di CU pinjaman atas nama lembaga tidak diperbolehkan. Uang tunai pinjaman dipakai untuk membiayai pembangunan gereja, sementara panitia menggalang dana dan menyetorkan dana yang sudah terkumpul untuk mengangsur pinjaman di CU. Dengan cara ini, penggalangan dana berjalan seiring dengan pembangunan. Dalam waktu singkat gereja baru bisa berdiri. Dari pengalaman, setelah gereja berdiri, ternyata lebih mudah mengumpulkan uang. Umat sudah merasakan sendiri manfaat gereja itu, malu kalau mereka tidak menyumbangkan sesuatu. Uang yang terkumpul dipakai untuk melunasi pinjaman di CU.

 

Inovasi CU di Kalimantan

Sekarang saya menceritakan beberapa alasan mengapa CU di Kalimatan berkembang pesat. Intinya kami selalu melakukan inovasi yang sungguh menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam anggaran kami, kami menyediakan pos Dana Promosi. Dari pos ini kami membuat produk-produk menarik untuk menjaring anggota baru dan mendorong anggota lama untuk meningkatkan saldo tabungan. Beberapa di antaranya produk: Saulin, SRI, BAS dan bonus untuk anggota yang mau menikah.

Saulin (Santunan Ibu Bersalin). Produk ini dirancang untuk menyemangati anggota agar sedini mungkin mempersiapkan uang untuk biaya kelahiran anak. Ibu-ibu berusia subur didorong untuk menabung hingga saldo di atas Rp 5 juta. Mereka boleh meningkatkan tabungan dengan cara pinjaman kapitalisasi, yaitu pinjam dari CU tetapi uangnya tidak dibawa pulang melainkan ditabung kembali. Saat anak lahir, bayi dari ibu yang telah menjadi anggota CU tersebut akan mendapat bonus Rp 500.000. Uang ini tidak diambil, tetapi dipakai sebagai modal simpanan keanggotaan si bayi. Dengan demikian, begitu lahir bayi ini telah menjadi anggota CU. Inilah inovasi cerdas untuk menjaring anggota baru. 

Sementara itu, ibu yang bersalin tetap diperhatikan. Mereka mendapat Santunan Rawat Inap (SRI) sejumlah Rp 50.000 per malam. Jika bersar tabungan mereka antara Rp 9-15 juta, santunan mereka meningkat menjadi Rp 75.000 per malam, dan bertambah lagi menjadi Rp 100.000 per malam apabila tabungan mereka di atas Rp 15 juta.

Untuk mendampingi anak yang menjadi anggota CU sejak bayi supaya antusias dan bangga sebagai anggota CU, dibuatlah produk Bantuan Anak Sekolah (BAS). Bapak atau ibu dari anak yang sudah menjadi anggota CU diberi saran untuk meminjam Rp 5 juta. Pinjaman ini tidak dibawa pulang, tetapi dimasukkan dalam tabungan anak yang baru lahir tadi. Seorang anak sekolah (TK-SMA) yang sudah mempunya saldo tabungan lebih dari Rp 5 juta mendapat beasiswa dari CU sebesar 25.000 per bulan. Beasiswa ini dimasukkan ke tabungan mereka. Kalau uang ini tidak diambil, ketika lulus SMA tabungannya sudah akan menjadi sekitar 16 juta. Jumlah yang lumayan bukan? Bisa untuk tambahan biaya masuk perguruan tinggi.

Setelah lulus kuliah, lalu bekerja, anggota ini siap untuk berumah tangga. Kalau tabungan mereka masih di atas Rp 5 juta, mereka akan mendapat bonus Rp 500.000 untuk tambahan biaya perkawinan nanti.

Kalau kita lanjutkan skema ini, mesti dikatakan bahwa CU akan terus mendampingi anggota hingga meninggal. Saat meninggal nanti, anggota akan meninggalkan tabungan bagi ahliwaris mereka. Selain tabungan, CU masih akan menambahkan santunan kematian sebesar simpanan, maksimal Rp 25 juta. Inilah yang kami sebut sebagai program “orang mati membantu orang hidup”.

 

Kata Akhir

Sekarang ini saya menjabat sebagai Ketua CU Sumber Ampah untuk periode kedua atau periode terakhir. Kami tahu betul bahwa kelangsungan CU tidak boleh bergantung pada figur. Saya sudah akan menyelesaikan masa jabatan saya, tetapi bersama teman-teman saya sudah menyiapkan kader-kader untuk kepengurusan baru. Lewat berbagai pelibatan pada gerak CU dan aneka pelatihan, mereka sudah siap mengambilalih tanggung jawab yang dulu kami emban.

Sebentar lagi saya juga akan memasuki masa pensiun sebagai pegawai negeri. Saya akan mempergunakan sisa hidup saya untuk mengembangkan CU di seluruh Indonesia. Beberapa keuskupan sudah mengundang saya untuk merintis CU di wilayah mereka. Saat ini saya juga ikut dalam Tim untuk menyehatkan beberapa CU yang bermasalah dan kurang berkembang. Seperti tanaman, supaya berkembang dan berbuah, perlu dirawat, CU pun demikian. Mengembangkan dan merawat CU selain CU Sumber Rejeki, mungkin itulah panggilan saya untuk masa yang akan datang. Saya berharap rahmat Allah yang dialirkan melalui CU dapat menjangkau semakin banyak orang. Semoga Anda pun tergerak untuk terlibat dalam usaha mengalirkan rahmat ini.

 

Salam

Dominikus D. Fernandez

Menjadi Trainer

oleh: fratertelo (Jakarta)

Training adalah suatu proses untuk melatihkan. Maka, hendaknya setelah pelatihan, para peserta mendapatkan hasil yaitu menjadi terlatih karena proses yang dilakukan adalah melatih. Apabila setelah pelatihan para peserta tidak menjadi terlatih maka proses pelatihan dipertanyakan efektivitasnya.

Pada dasarnya ada dua hal yang harus diperhatikan seorang trainer.

1. Transfer Knowledge

2. Transfer Energy

Pelatihan adalah sebuah proses pemindahan pengetahuan, dan juga keterampilan tertentu. Maka persiapan materi dan metode amat dibutuhkan oleh seorang trainer. Trainer mengusai bahan dan metode penyampaiannya.

Yang tidak kalah penting adalah transfer energy. Seperti apakah ini? Mungkin dari Anda pernah merasakan merinding atau ada sensasi lain pada tubuh ketika mendengar orang berbicara atau memberikan pidato. Ada keinginan yang menggebu timbul dalam hati dan kehendak kita saat kita mendengar orang itu bicara. Nah inilah tranfer energy yang dilakukan seorang trainer pada peserta pelatihan.

Penguasaan transfer energy memang lebih sulit dari pada transfer knowledge. Karena pada dasarnya untuk memiliki energy dan kemampuan mentransfer pada orang lain dibutuhkan laku keutamaan manusiawi: rajin meditasi, doa, refleksi, berbuat kebaikan. Itu adalah cara-cara memupuk energi positif dalam diri trainer.

Apabila seorang trainer hanya memiliki knowledge dan skill saja untuk ditransfer maka pelatihan akan terasa hambar dan garing. Memang bahan yang disajikan penuh dengan sesuatu yang baru, namun daya tariknya tidak ada. Berbeda dengan trainer yang memiliki energi positif yang mumpuni maka dia akan dapat membuat suatu transformasi-perubahan menjadi lebih baik dan terlatih.

Nah, jangan lupa untuk mengasah diri menjadi handal dalam mentransfer energi.

Salam sukses!

Mengenal Bapak Koperasi Indonesia

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa.

PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933).

Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

Proklamasi
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.

Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.

Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus.

Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.


Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

 

*** Sumber Naskah: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari Buku Makam Bung Hatta 1982 dan berbagai sumber)