Statistik Credit Union Bererod Gratia (CUBG)

Para anggota yang berbahagia dan para fasilitator pendidikan dasar yang selalu bersemangat mengembangkan Credit Union Bererod Gratia (CUBG) tercinta,

Berikut adalah statistik CUBG bulan Juli dan Agustus 2008 yang telah disusun oleh Rm. Antonius Sumarwan, SJ, seorang pastor yang amat peduli dengan perkembangan CUBG. Silakan dicermati, semoga angka-angka ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita bersama dan semakin menyemangati kita untuk mengembangkan CUBG.

PERKEMBANGAN ANGGOTA DAN KEUANGAN

CREDIT UNION BEREROD GRATIA 2008

    JULI AGUSTUS
ANGGOTA Laki-Laki                      1,555                       1,612
Perempuan                      1,329                       1,376
Total                      2,884                       2,988
ASSET      22,992,197,817    23,630,261,912
PENDAPATAN        2,153,725,742       2,519,493,347
BIAYA        2,065,019,004       2,421,552,753
SHU              88,706,738          100,986,838
PINJAMAN Kapitalisasi      2,141,997,875       2,028,916,420
Produktif      8,749,846,245       8,890,421,718
Konsumtif      6,490,943,200       6,959,526,950
Total    17,382,787,320    17,878,865,088
SAHAM Simpanan Pokok      2,894,000,000       2,988,000,000
Simpanan Wajib         318,321,000          339,501,000
NON SAHAM Megapolitan    16,615,931,191    17,326,969,286
Pagan      1,152,799,476       1,046,044,126
Pundi Gratia         899,520,000          721,520,000
  Total    21,880,571,667    22,422,034,412

 

 

Advertisements

Menjadi Trainer

oleh: fratertelo (Jakarta)

Training adalah suatu proses untuk melatihkan. Maka, hendaknya setelah pelatihan, para peserta mendapatkan hasil yaitu menjadi terlatih karena proses yang dilakukan adalah melatih. Apabila setelah pelatihan para peserta tidak menjadi terlatih maka proses pelatihan dipertanyakan efektivitasnya.

Pada dasarnya ada dua hal yang harus diperhatikan seorang trainer.

1. Transfer Knowledge

2. Transfer Energy

Pelatihan adalah sebuah proses pemindahan pengetahuan, dan juga keterampilan tertentu. Maka persiapan materi dan metode amat dibutuhkan oleh seorang trainer. Trainer mengusai bahan dan metode penyampaiannya.

Yang tidak kalah penting adalah transfer energy. Seperti apakah ini? Mungkin dari Anda pernah merasakan merinding atau ada sensasi lain pada tubuh ketika mendengar orang berbicara atau memberikan pidato. Ada keinginan yang menggebu timbul dalam hati dan kehendak kita saat kita mendengar orang itu bicara. Nah inilah tranfer energy yang dilakukan seorang trainer pada peserta pelatihan.

Penguasaan transfer energy memang lebih sulit dari pada transfer knowledge. Karena pada dasarnya untuk memiliki energy dan kemampuan mentransfer pada orang lain dibutuhkan laku keutamaan manusiawi: rajin meditasi, doa, refleksi, berbuat kebaikan. Itu adalah cara-cara memupuk energi positif dalam diri trainer.

Apabila seorang trainer hanya memiliki knowledge dan skill saja untuk ditransfer maka pelatihan akan terasa hambar dan garing. Memang bahan yang disajikan penuh dengan sesuatu yang baru, namun daya tariknya tidak ada. Berbeda dengan trainer yang memiliki energi positif yang mumpuni maka dia akan dapat membuat suatu transformasi-perubahan menjadi lebih baik dan terlatih.

Nah, jangan lupa untuk mengasah diri menjadi handal dalam mentransfer energi.

Salam sukses!

Mengenal Bapak Koperasi Indonesia

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa.

PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933).

Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

Proklamasi
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.

Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”.

Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus.

Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.


Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

 

*** Sumber Naskah: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari Buku Makam Bung Hatta 1982 dan berbagai sumber)

Kesaksian Anggota Credit Union Bererod Gratia (CUBG)

Berikut adalah kesaksian beberapa Anggota Credit Union Bererod Gratia yang berdomisili di paroki Santa Perawan Maria Ratu. Semoga semangat kepedulian bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa diikuti paroki lainnya. AMDG-RA) yang kami ambil (dan sudah disetujui ybs) dari blog ibu Ratna Ariani di http://ratnaariani.wordpress.com/2008/05/03/kesaksian-anggota-cu-bg/

Paulus Ledjap
CUBG: solusi dalam ketidakberdayaan

Masih terbayang dalam ingatan Paulus ketika banjir besar meluluh lantakkan rumahnya di awal tahun 2007. Ia tidak tahu bagaimana merenovasi rumah dan membeli peralatan rumah tangga yang hanyut terbawa banjir. Pinjaman dari kantor tak berhasil ia dapatkan. Dalam keputusasaannya, ia teringat CUBG. Mengapa tidak meminjam saja dari CUBG? Bukankah ia anggota CUBG?
Ia pun ke kantor pusat CUBG dan menceritakan masalah yang ia hadapi. Pengurus CUBG memberi tahu bahwa untuk mendapatkan kredit, ia harus melunaskan dulu simpanan wajibnya. Maka ia pun meminjam dari seseorang untuk menutup simpanan wajib sebesar Rp 2.325.000,-. Karena situasi yang ia hadapi tergolong darurat, ia berhasil mendapatkan kredit sebesar 3x simpanan, tak lama setelah ia melunasi simpanan wajibnya. Total pinjaman yang ia terima sebesar Rp 6.600.000,-. Dana itu digunakan untuk mengembalikan pinjaman dan merenovasi rumah. Masih ada sisa, ia gunakan sebagai uang pangkal anaknya yang masuk SMP Tarakanita.
Paulus bersyukur bahwa melalui CUBG, ia bisa menyelesaikan 2 permasalahan sekaligus, yaitu renovasi dan uang pangkal. Hal ini tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Angsuran sebesar Rp. 250.000,-/bulan selalu setia ia bayarkan. Menurut Paulus, CUBG sangat fleksibel dengan besarnya angsuran. Besarnya angsuran diserahkan kepada anggota, tergantung kemampuan mereka. Tentu saja semakin besar angsuran, semakin cepat kredit akan lunas, yang berarti semakin cepat pula ia dapat mengajukan permohonan kredit kembali. Paulus telah berencana kelak jika kreditnya lunas, ia akan mengajukan lagi permohonan kredit sebagai modal usaha. (Hasil interview :Lina)

Vincent Murwandi
CUBG: kepastian bunga dan santunan kematian

Ketertarikan Vincent terhadap CUBG berawal dari ulasan di Berita Sepekan. Ia pun kemudian mendaftarkan diri sebagai anggota CUBG pada November 2007.
Saat ini ia belum berniat mengajukan kredit dan ingin memperbesar simpanan dulu. Namun yang pasti, ia merasa beruntung menyimpan uangnya di CUBG karena CUBG memberikan bunga pasti sebesar 14% per tahun tanpa dipotong pajak dan biaya-biaya administrasi. Pada saat bunga bank hanya sebesar 8% per tahun (masih dipotong pajak dan biaya lain-lain), menabung di CUBG jelas lebih menguntungkan.
Menurut Vincent, menjadi anggota CUBG juga mendisiplinkan seseorang untuk menabung. Mengapa? Karena anggota harus melunasi terlebih dahulu simpanan wajib sebesar Rp. 2.325.000,- sebelum mereka bisa menarik kredit. Mungkin pada awalnya, terasa sulit untuk mengumpulkan uang sebesar itu. Namun lagi-lagi, CUBG memberikan kemudahan dalam bentuk pinjaman kapitalisasi. Artinya, simpanan sebesar Rp 2.325.000,- tersebut tidak harus langsung dilunasi tetapi bisa dicicil dengan jangka waktu bervariasi, paling lama 5 tahun.
Selain bunga yang tinggi dan pasti, CUBG melalui program JALINAN juga memberikan santunan kematian sebesar simpanan (maksimal Rp 25.000.000,-) bagi ahliwaris anggota. Sayangnya, menurut Vincent, CUBG belum banyak melakukan sosialisasi sehingga belum banyak orang yang tahu mengenai CUBG. Pengurus harus lebih aktif mensosialisasikan CUBG supaya kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan dinikmati lebih banyak orang. (Lina)

Christina Erni Pujiastuti:
Bebas dari Jerat Kartu Kredit

Saya seorang wanita umur saya 35 tahun, sudah bekerja sejak 1991 dan diangkat menjadi pegawai negeri di sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Saya seorang konsumeristis dan selalu ingin membelanjakan gaji yang saya terima setiap bulan. Akibatnya, saya tak punya tabungan.
Untuk mendapat sesuatu yang saya inginkan, tak jarang saya membelinya dengan cara kredit. Saya pernah mempunyai lebih dari 3 kartu kredit. Sampai akhirnya saya tak mampu membayar semua tagihan.
Saat saya menikah (2003), hutang dari kartu kredit saya belum juga lunas. Terpaksa saya memberitahukan suami saya dan memintanya membantu membayar hutang itu. Sejak saat itu suami meminta saya menutup semua kartu kredit, agar saya tak lagi terjebak pada jeratan sistem ekonomi kapitalis yang memberatkan! Tetapi sifat konsumeristis saya tidak dapat hilang juga sampai sekarang.
Dari pengalaman itu saya sangat merasakan manfaat menjadi anggota CUBG. Coba, dari dulu saya sudah bergabung menjadi anggota CUBG, pasti saya sudah punya banyak tabungan dan tidak terjerat hutang dengan kartu kredit.
Saat pertama kali diajak seorang aktivis CUBG untuk ikut menjadi anggota, saya langsung mengiyakan tanpa membicarakannya dulu dengan suami saya. Pada Februari 2007 saya masuk menjadi anggota dengan sistem kapitalisasi. Setelah ikut Pendidikan Dasar CUBG, saya lebih mengerti mengenai CUBG. Saya langsung memberitahukan kepada suami dan mengajaknya untuk ikut bergabung. Tetapi waktu itu dia masih trauma dengan sistem-sistem kartu kredit yang bunganya bisa mencekik leher! Kata-katanya yang masih saya ingat sampai sekarang, “hati-hati itu dapat dipercaya apa tidak. Jangan sampai tertipu dan kiblatnya amerika kapitalis banget. ”
Entah kenapa saya yakin sekali bahwa CUBG tidak seperti itu. Setelah pinjaman kapitalisasi saya lunas pada September 2007, pada Oktober 2007 saya mengajukan pinjaman sebesar 8 juta rupiah. Dalam waktu seminggu pinjaman saya langsung disetujui. Sistem angsurannya relatif tidak memberatkan anggota. Mengetahui hal tersebut suami saya tertawa: uang pinjaman itu bisa dipakai untuk membayar kontrakan rumah.

Karisem:
CUBG membuat kita belajar menabung

Karisem mulai bergabung CUBG pada awal tahun 2007 lewat sistem kapitalisasi. Ia masih mengangsur pinjaman kapitalisasi itu hingga kini. Meskipun terasa “berat”, ia tetap berusaha memenuhi kewajiban mencicil Rp. 100.000,-/bulan. Melalui kerja kerasnya, ia bahkan bisa mencicil lebih dari itu, sehingga pinjaman yang dipakai membayar biaya keanggotaan itu hampir terlunasi.
Ia tertarik menjadi anggota karena di CUBG ia bisa menabung meskipun hanya Rp 10.000,-. Ia berencana bahwa jika nanti anaknya masuk SMP, ia akan mengajukan permohonan kredit untuk menutupi uang pangkal dan kebutuhan sekolah lainnya. “CUBG membuat saya belajar menabung. Saya tidak malu menyetor uang tabungan sekecil apa pun, karena saya tahu bahwa berapa pun besarnya uang yang saya tabung, CUBG tetap akan menerimanya.”
Ia juga merencanakan untuk memasukkan anaknya yang masih berusia 11 tahun menjadi anggota CUBG. Biar ia belajar menabung dari uang jajannya, demikian ia mengatakan. Kalau uang tetap di tangan, ada saja godaan untuk jajan, tetapi kalau sudah di tabung, godaan itu bisa ditahan. Ia berharap sosialisasi CUBG terus dijalankan. “Supaya umat pra-sejahtera bisa menabung sedikit demi sedikit.” Ia berharap, pandangan umat mengenai koperasi bisa berubah. Perlu ditanamkan bahwa “tujuan utama masuk koperasi adalah menabung, bukan meminjam.” (Lina)

Deodatus :
CUBG mempermudah umat dalam menabung

Seperti Paulus Ledjap, Deodatus juga merasa sangat terbantu dengan menjadi anggota CUBG. Ia pertama kali bergabung karena tertarik dengan kesediaan CUBG untuk menerima tabungan anggota berapa pun besarnya. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa suatu hal yang bermula dari iseng ini ternyata justru membantu dia ketika rumahnya dilanda banjir besar pada awal tahun 2007. Bersama-sama beberapa anggota CUBG yang lain, ia mengajukan permohonan kredit untuk merenovasi rumah. Permohonan ini disetujui.
Ia berencana untuk memasukkan anaknya menjadi anggota CUBG juga. “Agar ia belajar menabung,” demikian dikatakannya. Seperti Karisem, ia juga berharap sosialisasi CUBG juga diadakan di lingkungan-lingkungan. “Umat perlu diajari untuk menabung, meskipun kondisi mereka sulit. Karena itu, mari menabung di CUBG karena kita tidak malu bila setoran tabungan kita hanya kecil jumlahnya.”

Belajar Public Speaking dari Obama dan Hillary

oleh: Martin E. Susilo (Jakarta)

Publik Amerika khususnya dan dunia pada umumnya sedang dibuat terkesima dengan pertunjukan konvensi Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Denver, Colorado. Pertunjukan itu menghadirkan sang fenomena baru di dunia politik AS, Barack Obama serta politisi kawakan Hillary Clinton. Mereka berdua telah menyetak dunia dengan aksi pidatonya yang dahsyat. Tak hanya menuai decak kagum tapi juga mengurai air mata haru dan bangga para pemirsanya.

Bagi Anda yang tertarik dengan rekaman video pidato mereka berdua, Anda dapat menyaksikannya di Internet TV (klik di sini). Pidato-pidato dalam konvensi ini memberikan pelajaran bagaimana menjadi public speaker yang handal. Keterampilan public speaking kaliber dunia jelas tersuguh dalam acara itu. Lantas pelajaran macam apa yang dapat kita ambil dari seni dan gaya pidato mereka?

Paling tidak ada tiga poin penting yang dapat menjadikan seseorang sebagai public speaker handal. Yang pertama adalah sebuah poin yang sangat basic : untuk bisa menjadi seorang public speaker yang baik, pertama-tama kita mesti memiliki kapasitas intelektual (baca: kecerdasan intelektual) yang kokoh dan wawasan berpikir yang ekspansif. Banyak orator ulung dunia, seperti Soekarno, Marthin Luther King, sampai Barack Obama adalah orang-orang yang dikarunia talenta kebrilianan otak. Keluasan wawasan sungguh nampak dari apa yang mereka sampaikan. Kita dapat membandingkan dengan orang-orang yang cekak pengetahuannya yang sedang menyampaikan orasi, apakah yang Anda dapat darinya? Tak banyak bukan, karena seorang tak akan memberi apa yang tidak dia punya (Latin: Nemo dat quod non habet). Bahkan seorang penjual obatpun dapat membuat kita terkesima karena mereka memiliki wawasan yang luas tentang produk yang dijualnya.

Poin yang kedua adalah kedua tokoh politik AS ini dengan sangat mengesankan memberikan pelajaran tentang apa itu makna ritme bicara, kekuatan intonasi, dan kejernihan artikulasi. Dan kita tahu, sebuah public speaking yang bagus selalu peduli dengan aspek-aspek kunci ini. Ritme dan irama penyampaian narasi yang pas, disertai dengan intonasi suara yang dinamis – tahu kapan mesti harus lembut, kapan harus lebih lantang – akan membuat audiens kita mampu terlibat sepenuhnya dengan apa yang disampaikan. Lalu, artikulasi yang jernih dan fasih akan selalu bisa membuat efek yang membekas pada benak pendengar kita. Hillary sangat menguasai bagaimana artikulasi ini. Setiap kalimat selalu ia artikulasikan dengan jernih dan dengan ritme yang mengalir; membuat ia mampu meninggalkan jejak yang memukau dalam bentangan hati para pendengarnya. Kejelasan artikulasi vokal a, e, u, i, o dan tekanan-tekanan kata dan kalimat mampu menjadikan pidatonya elok bak pertunjukan.

Poin yang ketiga adalah penguasaan panggung yang sempurna merupakan sebuah elemen amat penting untuk menghadirkan public speaking yang mengesankan. Seorang public speaker tak ubahnya aktor dalam pagelaran teater. Dia mesti memanfaatkan panggung yang ada untuk mendukung pertunjukannya. Bahkan dia juga harus mampu menguasai dirinya sendiri terlebih audiencenya. Apa yang akan terjadi jika kita hendak menyampaikan sebuah presentasi di depan forum dengan tubuh yang bergetar lantaran grogi, dan dengan tatap mata yang hanya melihat pada satu titik? Apa yang akan terjadi jika kita mendengarkan seseorang menyampaikan pidato dengan membaca teks, dan sepanjang pidato matanya tak pernah lepas dari teks? Bukankah kita sangat bosen dan kemudian terbang ke alam mimpi (baca: ngantuk).

Hillary dan Obama sama sekali tidak menggunakan teks ketika berpidato. Mereka benar-benar menguasai panggung dengan penuh kesempurnaan. Sepanjang pidato, Hillary selalu melemparkan tatapan mata kepada setiap sudut dimana 20 ribu penonton duduk dihadapannya. Ia seperti tengah berdialog dan berbicang intim dengan setiap hadirin yang hadir. Ia seperti menyulap podium itu menjadi pangung teatrikal dengan mana ia menyajikan sebuah penampilan seni bicara yang benar-benar memukau. Dia mampu menjalin interaksi dengan audiencenya kendati dia yang berbicara hanya dia. Kendati tidak ada dialog (dengan kata-kata) tetapi ada dialog batin dan hati. Inilah yang saya namakan ada transfer energi yang mereka lakukan. Ada kekuatan menggetarkan hati yang terlontar lewat keseluruhan kata dan sikap mereka.

Tiga poin yang sangat penting untuk kita pelajari dan kuasai karena kita adalah para public speaker. Sebagai fasilitator Credit Union kita dituntut untuk menjadi public speaker yang handal supaya pesan dan energi kita dapat tersalurkan kepada audience kita. Semoga tulisan ini semakin memotivasi kita untuk belajar dan terus belajar. Viva CUBG!

Note: tulisan ini diadopsi dari http://www.strategimanajemen.net/

Salam Pendidikan

Sore itu, langit Jakarta agak sedikit mendung. Udara yang lembab menggerahkan badan tidak kuasa menggerahkan semangat beberapa orang untuk merajut mimpi. Mimpi kemajuan suatu organisasi bernama Credit Union Bererod Gratia,  yang kemudian lebih familier disebut CUBG.

Di sebuah ruangan, 5 x 5 m, mereka berkumpul untuk membicarakan gerak maju Tim Pendidikan yang menjadi kerangka dan tulang punggung organisasi CUBG. Lalu-lintas kendaraan di depan kantor mereka begitu ramai, maklum saja karena jam-jam itu adalah jam pulang para pekerja. Jalanan Jakarta yang lebar itu seakan menjadi begitu sempit penuh dengan kendaraan. Tapi di ruangan itu, mereka masih berkumpul mencoba untuk mengambil peran demi kemajuan bersama. Atas nama masa depan yang lebih baik dan bahagia mereka menandatangani kontrak moral dalam hati mereka masing-masing. Mereka menyetujui klausul kontrak yang berdegup dalam sanubari mereka bahwa CUBG harus hidup dan maju, sudah begitu “terlanjur” banyak orang yang percaya dengan organisasi ini. Organisasi ini harus tetap hidup dan berkembang.

Kontrak moral dalam sanubari itulah yang membawa pula pada kesadaran bahwa pendidikan sudah dimulai dan harus ditekuni. Sebersit asa tampak dari kerut wajah sang pendamping bahwa tim pendidikannya akan maju dan berkembang. Jalanan ramai Jakarta menandakan begitu banyak orang yang mau terlibat kendati masih jalan sendiri-sendiri. Walau sudah ada lampu bangjo tapi toh masih banyak yang nyelonong. Ada yang harus mengawal gerak mereka supaya tidak saling tabrak, kacau, dan menderita.

Dari situlah gagasan untuk menata dan merapatkan barisan muncul. Dari sanalah gagasan untuk mengintensifkan komunikasi muncul. Lantas sebuah jabang bayi Media Pendidikan ini lahir. Masih di tengah riuh jalanan dan iringan kendaraan dan juga iring-iringan insan yang percaya, media ini memberikan salam, Salam Pendidikan demi kemajuan dan kebahagiaan.