Belajar Public Speaking dari Obama dan Hillary

oleh: Martin E. Susilo (Jakarta)

Publik Amerika khususnya dan dunia pada umumnya sedang dibuat terkesima dengan pertunjukan konvensi Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Denver, Colorado. Pertunjukan itu menghadirkan sang fenomena baru di dunia politik AS, Barack Obama serta politisi kawakan Hillary Clinton. Mereka berdua telah menyetak dunia dengan aksi pidatonya yang dahsyat. Tak hanya menuai decak kagum tapi juga mengurai air mata haru dan bangga para pemirsanya.

Bagi Anda yang tertarik dengan rekaman video pidato mereka berdua, Anda dapat menyaksikannya di Internet TV (klik di sini). Pidato-pidato dalam konvensi ini memberikan pelajaran bagaimana menjadi public speaker yang handal. Keterampilan public speaking kaliber dunia jelas tersuguh dalam acara itu. Lantas pelajaran macam apa yang dapat kita ambil dari seni dan gaya pidato mereka?

Paling tidak ada tiga poin penting yang dapat menjadikan seseorang sebagai public speaker handal. Yang pertama adalah sebuah poin yang sangat basic : untuk bisa menjadi seorang public speaker yang baik, pertama-tama kita mesti memiliki kapasitas intelektual (baca: kecerdasan intelektual) yang kokoh dan wawasan berpikir yang ekspansif. Banyak orator ulung dunia, seperti Soekarno, Marthin Luther King, sampai Barack Obama adalah orang-orang yang dikarunia talenta kebrilianan otak. Keluasan wawasan sungguh nampak dari apa yang mereka sampaikan. Kita dapat membandingkan dengan orang-orang yang cekak pengetahuannya yang sedang menyampaikan orasi, apakah yang Anda dapat darinya? Tak banyak bukan, karena seorang tak akan memberi apa yang tidak dia punya (Latin: Nemo dat quod non habet). Bahkan seorang penjual obatpun dapat membuat kita terkesima karena mereka memiliki wawasan yang luas tentang produk yang dijualnya.

Poin yang kedua adalah kedua tokoh politik AS ini dengan sangat mengesankan memberikan pelajaran tentang apa itu makna ritme bicara, kekuatan intonasi, dan kejernihan artikulasi. Dan kita tahu, sebuah public speaking yang bagus selalu peduli dengan aspek-aspek kunci ini. Ritme dan irama penyampaian narasi yang pas, disertai dengan intonasi suara yang dinamis – tahu kapan mesti harus lembut, kapan harus lebih lantang – akan membuat audiens kita mampu terlibat sepenuhnya dengan apa yang disampaikan. Lalu, artikulasi yang jernih dan fasih akan selalu bisa membuat efek yang membekas pada benak pendengar kita. Hillary sangat menguasai bagaimana artikulasi ini. Setiap kalimat selalu ia artikulasikan dengan jernih dan dengan ritme yang mengalir; membuat ia mampu meninggalkan jejak yang memukau dalam bentangan hati para pendengarnya. Kejelasan artikulasi vokal a, e, u, i, o dan tekanan-tekanan kata dan kalimat mampu menjadikan pidatonya elok bak pertunjukan.

Poin yang ketiga adalah penguasaan panggung yang sempurna merupakan sebuah elemen amat penting untuk menghadirkan public speaking yang mengesankan. Seorang public speaker tak ubahnya aktor dalam pagelaran teater. Dia mesti memanfaatkan panggung yang ada untuk mendukung pertunjukannya. Bahkan dia juga harus mampu menguasai dirinya sendiri terlebih audiencenya. Apa yang akan terjadi jika kita hendak menyampaikan sebuah presentasi di depan forum dengan tubuh yang bergetar lantaran grogi, dan dengan tatap mata yang hanya melihat pada satu titik? Apa yang akan terjadi jika kita mendengarkan seseorang menyampaikan pidato dengan membaca teks, dan sepanjang pidato matanya tak pernah lepas dari teks? Bukankah kita sangat bosen dan kemudian terbang ke alam mimpi (baca: ngantuk).

Hillary dan Obama sama sekali tidak menggunakan teks ketika berpidato. Mereka benar-benar menguasai panggung dengan penuh kesempurnaan. Sepanjang pidato, Hillary selalu melemparkan tatapan mata kepada setiap sudut dimana 20 ribu penonton duduk dihadapannya. Ia seperti tengah berdialog dan berbicang intim dengan setiap hadirin yang hadir. Ia seperti menyulap podium itu menjadi pangung teatrikal dengan mana ia menyajikan sebuah penampilan seni bicara yang benar-benar memukau. Dia mampu menjalin interaksi dengan audiencenya kendati dia yang berbicara hanya dia. Kendati tidak ada dialog (dengan kata-kata) tetapi ada dialog batin dan hati. Inilah yang saya namakan ada transfer energi yang mereka lakukan. Ada kekuatan menggetarkan hati yang terlontar lewat keseluruhan kata dan sikap mereka.

Tiga poin yang sangat penting untuk kita pelajari dan kuasai karena kita adalah para public speaker. Sebagai fasilitator Credit Union kita dituntut untuk menjadi public speaker yang handal supaya pesan dan energi kita dapat tersalurkan kepada audience kita. Semoga tulisan ini semakin memotivasi kita untuk belajar dan terus belajar. Viva CUBG!

Note: tulisan ini diadopsi dari http://www.strategimanajemen.net/

2 Responses

  1. Semoga semakin banyak orang yang tertarik untuk berbagi dengan sesamanya ……….

    salam bahagia!

  2. Tulisan yg bagus bro,,,makasi y,,nambah ilmu nich,,,,:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: