Diksar CUBG di Bantargebang

Minggu, 27 Mei 2012. Udara pagi di pinggiran Bekasi begitu segar. Mendekati Bantargebang aroma sampah mulai tercium. Puluhan orang yang penuh semangat telah memadati kompleks Sekolah St. Lusia. Mereka adalah anggota-anggota baru Credit Union Bererod Gratia. Mereka telah siap untuk belajar dalam Pendidikan Dasar (Diksar). Diksar adalah salah satu jenis pendidikan yang harus diikuti oleh anggota baru. Dalam Diksar, peserta diajak menyadari eksistensinya sebagai warga masyarakat. Setelah sadar, peserta diajak memahami situasi sosial yang ada. Menerima realitas sosial itu. Kemudian mengerti dan memahami sejarah Credit Union.

Pemaparan sejarah yang terasa segar karena disampaikan dengan penuh komunikatif oleh pak Purwanto. Peserta yang antusias ternyata membuat fasilitator menjadi makin semangat. Kemudian Pak Dion mengajak peserta untuk belajar menyusun Anggaran dan Belanja Keluarga. Pemaparannya sangat menarik. Peserta terlihat paham dan antusias. Nyatanya, dengan sukarela peserta mau mensharingkan anggaran dan belanja yang mereka susun di hadapan forum.

Peserta semakin semangat ketika menerima penjelasan mengenai pola kebijakan CUBG. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Fasilitator dengan semangat menjawab semua pertanyaan. Peserta nampak puas, mesti mungkin belum paham sepenuhnya.
Akhirnya, tibalah akhir acara. Semua peserta dinyatakan lulus Diksar. Mereka layak mendapatkan sertifikat.

Selamat untuk anggota baru. Mari kita bersatu membangun CUBG. Selamat berjuang untuk kesejahteraan.

Credit Union Microfinance Innovation (CUMI)

Mengantar orang miskin menjadi anggota CUBG dan

Membantu CUBG menjangkau orang miskin

Latar Belakang

Menurut data pemerintah Indonesia, mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan sejumlah 37 juta. Angka ini diambil dari pendapatan Rp 166,697 per kapita per bulan atau US$ 0,58/hari. Menurut Bank Dunia, mereka yang pendapatannya US$ 1 per hari, jumlahnya lebih dari 63 juta. Sedang jika memakai garis kemiskinan moderat Bank Dunia sebesar US$ 2 per hari, jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 126 juta jiwa atau sekitar 50% dari jumlah penduduk 230 juta.

 

Kebanyakan dari golongan miskin ini mempunyai usaha kecil. Namun mereka tidak mempunyai akses pada lembaga keuangan formal. Hadirnya sekitar 50.000 lembaga kredit mikro belum cukup mampu menjangkau kebutuhan mereka.

Credit Union Bererod Gratia (CUBG) bercita-cita dan berpotensi untuk membantu anggotanya untuk meningkatkan kesejahteraan. Meskipun sudah ada produk pinjaman kapitalisasi sebesar Rp 2.000.000 yang memungkinkan orang dengan penghasilan rendah menjadi anggota CUBG, namun kewajiban untuk melunasi pinjaman tersebut tetap dirasa berat oleh kelompok miskin. Akibatnya pelayanan CUBG sulit menjangkau kelompok yang sungguh miskin. Padahal mereka butuh tambahan modal supaya dapat meningkatkan omset usaha.

Untuk menjawab persoalan itu, para aktivis CUBG Blok Q, bekerjasama dengan PSE Paroki Santa Perawan Maria Ratu, merancang Program Inovasi Keuangan Mikro Credit Union (IKMCU) atau dalam bahasa Inggris Credit Union Microfinance Innovation (CUMI). Dengan memberikan pinjaman modal tanpa agunan kepada para anggota, CUMI diharapkan dapat mengantar masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan dan tabungan. CUMI tidak lain merupakan persiapan untuk menjadi anggota CUBG. Setelah lulus dari program CUMI dan menjadi anggota CUBG, mantan anggota CUMI akan memperoleh banyak keuntungan sebagai anggota CUBG seperti memperoleh pinjaman dalam jumlah yang lebih besar, menabung dengan balas jasa simpanan tinggi dan perlindungan pinjaman serta asuransi jiwa.

VISI

Semua orang miskin di Paroki Blok Q menjadi anggota CUBG

MISI

Program Inovasi Keuangan Mikro Credit Union (CUMI) mempunyai misi untuk memberikan pelayanan keuangan mikro (pinjaman dan tabungan) bagi para usahawan kecil dan mengarahkan mereka menjadi anggota Credit Union Bererod Gratia.

STRATEGI

Supaya mampu melayani dan mendampingi para peminjam secara intensif dan professional, sederhana dan cepat, CUMI digerakkan oleh Tim tersendiri. Tim ini mempunyai kewenangan untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi program-program kerja CUMI. Ia juga mempunyai kewenangan untuk melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk mendukung visi dan misi CUMI.

 

SUMBER PENDANAAN

CUMI mencari sumber pendanaan dari anggota, lembaga lain maupun donatur/investor per orangan. Tabel berikut merupakan skema pendanaannya.

Sumber Pendanaan

Balas Jasa

A. Anggota

10% per 12 bulan

B. Donasi perorangan atau Lembanga Lain

0%

C. Pinjaman Lembaga Lain

Sesuai perjanjian

D. Pinjaman filantropi perorangan

0%

BESARAN PINJAMAN DAN BUNGA

Pinjaman diberikan dengan model tahapan antara Rp 500.000 sampai Rp 3.000.000. Peminjam yang memiliki catatan tabungan dan pengembalian pinjaman yang baik mempunyai jaminan mendapatkan pinjaman yang lebih besar.

1.    Pinjaman diberikan tanpa agunan

2.    Jangka waktu peminjaman antara 10-20 minggu

3.    Bunga pinjaman sebesar 0.5% per minggu tetap (5% 10 minggu atau 10% 20 minggu)

4.    Setoran dilakukan mingguan (7 hari)

5.    Biaya pelayanan 2%

6.    Lewat 5 hari dikenai denda 3% dari cicilan dan bunga

Pinjaman

Jumlah Pinjaman

Bunga

Pinjaman 1

Rp 500.000

10% dalam 20 minggu

atau

5% dalam 10 minggu

Atau

0,5% per minggu

 

Pinjaman 2

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 3

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 4

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

Pinjaman 5

Rp 500.000 atau 3 X simpanan

TARGET PEMINJAM

1.    Pinjaman diberikan untuk kegiatan usaha saja

2.    Calon peminjam berpendapatan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan

3.    Tidak punya akses pada lembaga keuangan formal

4.    Peminjam punya usaha produktif

5.    Calon peminjam yang belum mempunyai usaha dapat memperoleh pinjaman dengan syarat bergabung dalam satu kelompok yang minimal dua anggotanya sudah punya usaha.

6.    Peminjam perempuan mendapat prioritas

 TAHAP-TAHAP PEMINJAMAN

1.    Calon peminjam membentuk kelompok dengan anggota 5 orang. Anggota keluarga tidak boleh berada dalam satu kelompok. Kelompok sedapat mungkin tinggal atau punya usaha di tempat yang saling berdekatan.

2.    Calon anggota menyerahkan fotokopi KTP dan KK (Kartu Keluarga) kepada Staf CUMI. Staf CUMI memberikan training selama minimal 2 jam dalam hal manajemen usaha kecil dan tata cara pelaksanaan program CUMI.

3.    Kalau berjalan baik, kelompok disahkan. Angota memilih dua orang sebagai Ketua dan Bendahara.

4.    Seminggu setelah kelompok disahkan, dua orang anggota memperoleh pinjaman pertama.

5.    Pencairan pinjaman harus dihadiri seluruh anggota dan empat anggota lain berperan sebagai penjamin.

6.    Peminjam mengangsur satu minggu setelah menerima pinjaman.

7.    Pinjaman kedua diberikan kepada dua orang berikutnya setelah pinjaman pertama diangsur secara tertib selama empat minggu.

8.    Pinjaman ketiga diberikan dua minggu setelah pinjaman kedua.

9.    Setiap anggota dapat mengajukan pinjaman baru jika pinjamannya sudah lunas dan tidak ada anggota yang lalai mengangsur.

10. Kelalaian pinjaman ditanggung renteng; pinjaman berikutnya tidak dapat dikucurkan sebelum kelalaian pinjaman diselesaikan.

11. Besar pinjaman Rp 500.000 atau 3 kali jumlah tabungan.

TABUNGAN

1.    Setiap kali menerima pinjaman, anggota wajib menabung sebesar 5% dari pinjaman yang cair.

2.    Anggota wajib menabung tiap minggu minimal Rp 2.500.

3.    Bunga simpanan 10% per tahun (pembukuan per 6 bulan)

PERTEMUAN KELOMPOK

Kelompok bertemu seminggu sekali dengan Staf CUMI untuk menyerahkan cicilan pinjaman dan tabungan, berbagi pengalaman, memberikan usulan atau pun mendapat informasi dan pelatihan dari Staf.

 ANDA INGIN TERLIBAT?

 Hubungi Para Aktivis CUBG, Blok Q

Gedung PSE Maria Fatima

Jl. Suryo 43, Kebayoran Baru

Telp 021-7246852

Pada hari Sabtu dan Minggu pk 08.00-12.00

atau

Joko Santosa           085647274073

Antonius Sumarwan 081317749527

Ada CUMI di Blok Q

Hampir semua orang tertawa atau tersenyum simpul ketika kami beritahu bahwa CU Bererod Gratia (CUBG), Blok Q, membuka program CUMI. Mereka ingat akan satu iklan di televisi yang memang lucu. Cuma mimpi? Atau Cuma minjam? Itukah yang dimaksud dengan CUMI?
Di kalangan aktivis Credit Union, CUMI sudah ada sebelum iklan tersebut populer. CUMI adalah Credit Union Microfinace Innovation. Dengan program ini CU hendak memberikan pelayanan keuangan (pinjaman dan tabungan) kepada para usahawan kecil yang ingin meningkatkan bisnisnya. Untuk konteks CUBG yang meminta anggota mempunyai simpanan cukup tinggi (Rp 2 juta) sebelum mereka dapat mengajukan pinjaman, CUMI merupakan persiapan untuk menjadi anggota CUBG.
Program CUMI CUBG Blok Q dirancang mengikuti sistem Grameen Bank, yaitu meminta calon anggota membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang. Setelah kelompok terbentuk dan anggota mendapat penjelasan tentang prosedur program ini, dua orang anggota memperoleh pinjaman Rp 500.000. Jika pinjaman ini diangsur secara teratur selama empat minggu, pinjaman untuk dua orang berikutnya dikucurkan. Dua minggu kemudian dikucurkan pinjaman untuk orang kelima.
Selama mengikuti program ini anggota diwajibkan menabungkan 5% dari pinjaman dan minimal Rp 2.500 setiap minggu. Saat pinjaman pertama lunas, anggota dapat mengajukan pinjaman baru sebesar 3 kali simpanan. Untuk simpanan anggota memperoleh balas jasa 10% per tahun, sementara pinjaman 0,5% per minggu.
CUMI Blok Q dimulai pada pertengahan September 2008. Anggota pertamanya lima pedagang yang biasa berjualan di depan gereja pada hari minggu. Mulai bulan Desember bergabung empat kelompok baru. Pada bulan Januari anggota bertambah lagi sehingga total menjadi 55 orang (11 kelompok). Mereka tersebar di daerah Kebalen dan Ciomas, Jl. Nipah dan Tegal Parang. Kebanyakan dari mereka adalah warga non-Katolik. Warga Gereja sendiri kurang berminat pada program ini, karena kesulitan membentuk kelompok, tidak punya usaha atau merasa pinjaman terlalu kecil.
Ibu Sainem yang sehari-hari berjualan rokok sangat terbantu dengan program ini. Karena modal yang ia miliki kecil, setiap hari ia mesti pergi ke pasar untuk membeli dagangan. Itu pun ia hanya bisa belanja dua sampai lima bungkus rokok. Setelah mendapat pinjaman dari CUMI, ia bisa dua hari sekali ke pasar. Ia kini dapat membeli rokok satu pak dengan berbagai merek. Warung Ibu Sainem yang hanya seukuran jendela kini dilengkapi mi instan, obat-obatan dan makanan kecil. “Lumayan, sekarang pendapatan meningkat,” tuturnya.
Hingga Januari 2009 pinjaman yang telah dikucurkan mencapai Rp 18.500.000 (untuk 37 orang); yang sudah diangsur Rp 4.500.000. Dari anggota terkumpul tabungan Rp 2.119.500. Untuk sementara, uang yang dipinjamkan CUMI berasal dari pinjaman perorangan yang mendukung program ini dan dari Seksi PSE. Kalau anggota semakin banyak, CUMI akan mengajukan pinjaman ke CUBG. Moga-moga dengan berkat CUMI, warga kecil terbantu dan dapat menyiapkan diri menjadi anggota CUBG, sementara CUBG juga semakin menyentuh orang kecil.*** (AS)foto-artikel-cumi

Pelatihan Pertanian Organik dan Budidaya Jamur Kuping

Para anggota yang baik, berikut ini adalah informasi mengenai pelatihan (bukan diadakan oleh CUBG) tetapi kiranya dapat menambah informasi bagi kita semua. Yang berminat silakan menghubungi kontak yang tertera dalam informasi berikut. Info ini diambil dari milis Keuskupan Agung Semarang.

TRAINING PERTANIAN ORGANIK TERPADU

KURSUS PERTANIAN TAMAN TANI

Kami satu-satunya training pertanian organik yang berbasis praktek dan berasrama untuk pendidikan karakter petani pengusaha. Training pertanian organik diselenggarakan pada:

Tanggal 22-28 Maret 2009

19 – 25 April 2009

24 – 30 Mei 2009

14 – 20 Juni 2009

(Diharapkan tiba di KPTT sebelum pukul 18.00 pada tanggal dimulainya training)

Tempat : Wisma Wates, KPTT, Jl. Mayangsari 2, Salatiga 50701

Biaya : Rp 300,000,- per hari (konsumsi, penginapan, praktek langsung di lapangan, materi training dan sertifikat).

Biaya pendaftaran ditransfer ke : 3125022201 atas nama Yayasan Taman Tani QQ KPTT Bank Panin Indonesia.

Pendaftaran bisa dilakukan dengan: fax (0298) 322788, e-mail (wartayasj@gmail.com) atau SMS (081548595072).

Materi yang didalami:

· Mengembangkan Pertanian Organik Terpadu:

· Pengertian pertanian organik

· Kesuburan tanah dan tanaman

· Merancang pertanian organik

· Membuat bokashi

· Membuat pestisida organik

· Mengelola pertanian organik

· Peternakan

· Energi alternatif: energi biogas: memanfaatkan kotoran hewan untuk energi gas untuk masak

· Budi daya jamur kuping

· Teknologi Tepat Guna: menaikkan air tanpa listrik (teknologi hidram), kompor dengan bahan bakar briket dari sampah

· Pengolahan hasil panen secara organik

· Pengenalan soal gizi dari produk pertanian organik.

Salatiga, 14 Januari 2009

Y. Wartaya, SJ

Direktur

TRAINING BUDI DAYA JAMUR KUPING

KURSUS PERTANIAN TAMAN TANI

Kami satu-satunya training pertanian organik yang berbasis praktek dan berasrama untuk pendidikan karakter petani pengusaha. Training pertanian organik diselenggarakan pada:

Tanggal 28 Februari 2009

31 Maret 2009

30 April 2009

16 Mei 2009

30 Juni 2009

(Training berlangsung pukul 08.00 – 16.00)

Tempat : Wisma Wates, KPTT, Jl. Mayangsari 2, Salatiga 50701

Biaya : Rp 300,000,- sehari (konsumsi, praktek langsung di lapangan, materi training dan sertifikat).

Biaya pendaftaran ditransfer ke : 3125022201 atas nama Yayasan Taman Tani QQ KPTT Bank Panin Indonesia.

Pendaftaran bisa dilakukan dengan: fax (0298) 322788, e-mail (wartayasj@gmail.com) atau SMS (081548595072).

Materi yang didalami:

· Persiapan media

· Pencampuran media

· Pembuatan baglog

· Sterilisasi

· Inokulan

· Perawatan

· Pemanenan

· Pemasaran jamur kuping

Salatiga, 14 Januari 2009

Y. Wartaya, SJ

Direktur

Laporan Statistik dan Keuangan CUBG per November 2008

Saudara-saudari yang baik berikut laporan keuangan dan statistik Credit Union Bererod Gratia per November 2008 yang disusun oleh Rm. Sumarwan SJ. Semoga dapat menjadi bahan refleksi bersama dan meningkatkan keaktifan para anggota.

statistik-nov-08

Statistik Credit Union Bererod Gratia per September 2008

statistik-nov-081

Seorang Guru yang Menjadi Aktivis CU

Sekadar Kata Awal

Saudara-saudariku yang pernah membaca tulisan “Oleh-oleh Pengalaman dari Kalimantan”, sebuah cerita perkembangan Credit Union di Borneo, apakabar? Saya hendak membagikan lagi keajaiban Credit Union di sana. Kali ini bukan dari Kalimantan Barat di mana 6% penduduknya sudah menjadi anggota CU, melainkan dari Kalimantan Tengah.

Kisah ini terumuskan karena pada September lalu, Dominikus D Fernandez, seorang aktivis CU Sumber Rejeki, Ampah, berkunjung ke Jakarta. Ia ingin mengisi masa liburan puasa dengan melihat perkembangan Credi Union di Jakarta, khususnya CU Bererod Gratia (CUBG) yang ikut dalam Jaringan Credit Union Kalimantan. Selama seminggu, setiap pagi Fernandez ikut ngantor di Tempat Pelayanan CUBG Jl. Matraman, 31. Sesekali ia mengunjungi tempat pelayanan lain. Ia mencermati cara pengurus dan staf CUBG bekerja dan melayani. Ia telah memberikan banyak masukan berharga.

Sekarang ini saya punya obsesi untuk mengumpulkan cerita-cerita gerakan CU di Kalimantan. Kedatangan Bapak Fernandez tentu saja merupakan peluang emas yang tak boleh dilewatkan. Meski waktu itu acara saya cukup padat, saya berhasil mencari waktu untuk berjumpa dan berbincang dengan Bapak Fernandes. Kantor CUBG Jl. Matraman menjadi tempat pertemuan kami.

Berikut ini saya sajikan hasil pembicaraan kami. Dalam tulisan berikut ini, Bapak Fernandez akan bertutur sendiri, meski sebenarnya yang menuliskannya kembali adalah saya. Pilihan ini dibuat supaya Anda dapat lebih akrab dengan Bapak Fernandez dan juga supaya tulisan lebih ringkas.

Pengalaman Bapak Fernandez tidak ubahnya percikan api. Semoga api ini menyulut dan mengobarkan Anda juga untuk secara kreatif berbuat sesuatu bagi saudara kita yang miskin.

 

Salam

  

Antonius Sumawan, SJ

Guru Yang Jadi Aktivis CU

 

 

Saya Dominikus D Fernandez, seorang katekis yang diangkat sebagai Pegawai Negeri. Saya berasal dari Larantuka. Pada usia 25 tahun saya ditugaskan mengajar di  SD III Tampa, Kecamatan Ampah, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Saya pernah punya hanya 9 murid untuk seluruh SD. Karena murid terlalu sedikit, kelas kami gabung. Dalam seminggu hanya tiga hari saya mengajar di sekolah. Karena punya banyak waktu luang, saya tergerak untuk membagikan ilmu kepada orang-orang dewasa juga.  Saya kemudian merancang program Pendidikan Orang Dewasa(POD), yang menawarkan tiga paket. Paket A untuk kesetaraan dengan SD, paket B setara dengan SMP dan paket  C setara degan SMA.

Pada 1979 saya merintis sebuah SMP Swasta di Ampah.  Setahun kemudian SMP rintisan ini dijadikan SMP Negeri. Di SMP ini selama sembilan tahun saya mengajar tanpa dibayar. Pada 2003 saya mendirikan SMA. Lagi-lagi setahun kemudian SMA ini dijadikan SMA negeri. Di sini pun selama setahun saya menjadi Kepala sekolah dan mengajar tanpa dibayar. Semuanya adalah pelayanan.

 

Bersentuhan dengan pemberdayaan   

 

Saya memang seorang guru. Namun pemberdayaan masyarakat miskin sejak awal sudah menjadi bagianp1010194 hidup saya. Sejak 1979 hingga 1990 saya menjadi pendamping nasabah Bank Purba Danarta di daerah Kalimantan Tengah. Bank Purba Danarta adalah suatu bank yang secara khusus ingin memberikan pelayanan kepada orang-orang kecil, mendampingi usaha-usaha mandiri mereka. Pendiri dan pemimpin bank ini Pastor Melchers, SJ. Kantor pusatnya di Semarang. Setelah Pastor Melchers meninggal, kabarnya terjadi perubahan manajemen bank ini, tapi saya tidak tahu persis, karena setelah 1990 saya kurang kontak lagi dengan Bank Purba Danarta.

Waktu itu saya mendampingi sekitar 1.000 orang. Ada masa ketika pelayanan kami lakukan dengan sederhana sekali. Inti dari gerakan ini adalah kepercayaan. Buku tabungan dan pinjaman anggota hanyalah buku tulis biasa. Setiap kali ada setoran diberi meterai. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena kami percaya satu sama lain.

Pada 1989 saya sempat mengikuti kursus di Lembaga Bina Swadaya. Namun saya tidak begitu tertarik mengikuti metodenya, yang menurut saya, masih belum amat menekankan unsur swadaya masyarakat. Mereka masih cukup banyak sekadar mengalihkan dana dari pemerintah kepada masyarakat.

 

Kenal CU

Selepas kursus itu saya masih terus mencari alat yang tepat untuk membantu saudara yang miskin untuk keluar dari jerat kemiskinan. Bersamaan dengan pencarian saya itu, pada 1998 Dekenat Barito, Keuskupan Banjarmasin, mencanangkan Gerakan Gereja Peduli kepada Kaum Miskin.  Kami memikirkan suatu gerakan kepedulian yang tidak sekadar memberikan bantuan kepada orang miskin terus-menerus. Kami ingin memberdayakan dan membuat mereka bangkit sendiri. Kami terus mencari alat yang efektif untuk membantu kaum miskin sekaligus membuat mereka punya harga diri dan kemudian mandiri. Bersama Pastor Yoseph Mohr MSF kami menemukan alat itu, yakni Credit Union (CU).

Aksi nyata gerakan ini baru mulai pada 1 April 1999, ditandai dengan terbentuknya Credit Union Sumber Rejeki . Benih CU baru ini ditabur di Ampah, sebuah kecamatan di Baroti Timur, Kalimantan Tengah. Sembilan belas aktivis dari empat paroki di Dekenat Ampah membangun tekad bersama untuk berbuat sesuatu.

Kami memang mulai dari yang kecil, tetapi punya impian besar. Inilah impian kami: pada 2009, 80% umat di Dekenat Barito menjadi anggota CU Sumber Rejeki. Kami pun mencanangkan satu visi bersama: CU Sumber Rejeki sebagai lembaga investasi utama rakyat.

Impian dan visi tidak berhenti pada kata dan slogan, tetapi kami tindaklanjuti dengan kerja keras. Dari kampung dan kecamatan, gerakan kami menjalar ke kota kabupaten Barito. Belum genap sepuluh tahun berjalan, pada September 2008, 18.200-an orang telah menjadi anggota CU Sumber Rejeki. Saat ini kami memiliki 13 Tempat Pelayanan dengan  48 staf purna waktu. Kini kami sudah berhasil menghimpun aset lebih dari Rp 98 milyar. Sekarang kami yakin bahwa orang-orang di Barito sebenarnya tidak miskin, melainkan hanya sulit mengatur keuangan.

 

Tantangan keluarga

Keberhasilan itu tidak muncul dari langit. Banyak tantangan yang mesti saya dan teman-teman hadapi. Dan tantangan paling awal bagi seorang aktivis CU adalah keluarga. Saya ini sudah termasuk orang yang “gila CU”. Delapan puluh persen waktu yang saya miliki saya pakai untuk CU. Tinggal 20% untuk keluarga. Siang hari saya mengajar di sekolah, sore hari masuk ke kantor CU. Kadang saya baru pulang pada pukul 01.00-02.00 malam. Tidak mengherankan kalau istri saya sempat sewot dan tidak mau membukakan pintu. 

Pernah ia bertanya dengan nada tinggi,”Kantor apa yang buka sampai tengah malam?”

“ Ini bukan kantor tapi kegiatan,” saya mencoba memberi pengertian. “Kalau kantor buka sampai jam 4, sementara kegiatan mengikuti ritme masyarakat.”

Saat pulang saya juga hanya membawa kertas-kertas laporan keuangan, bukan uang. Hal macam ini tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. Mereka berpikir bahwa bekerja di bidang keuangan, mestinya menghasilkan uang juga. Pada awal kegiatan dulu, beberapa teman sering mengejek saya, “Makan saja itu kertas-kertas.” Untunglah, dalam hal macam ini isteri saya tidak ikut-ikutan. Ia sudah tahu bahwa para pengurus CU memang tidak digaji. Kegiatan kami adalah pelayanan. Pelayanan yang harus dilakukan secara profesional.

Tantangan berikutnya muncul dari pekerjaan mengelola uang itu sendiri. Bayangkan, setiap hari Anda melihat uang milyaran milik orang lain, sementara itu dompet sendiri tipis dan uang sendiri sulit diatur. Itulah yang saya alami. Saya tidak menyangkal, bahwa ada godaan untuk memanfaatkan uang itu. Godaan ada, namun syukurlah, hingga sekarang saya kuat. Saya selalu berprinsip, “Dompet saya ada di saya. Itu uang orang, saya tidak boleh mengutak-utik.”

 

Perselisihan dengan seorang pastor

Tantangan lain yang tak pernah terlupakan adalah perselisihan saya dengan seorang pastor Deken. Dalam suatu rapat dekenat, pastor ini mencemooh dan menolak program CU. Ia bahkan juga memukul saya di hadapan para hadirin.

Saya mencoba menahan diri dan menanggapi tantangannya setenang mungkin, “Kai – saya memanggil pastor itu Kai, artinya kakek – tiga puluh tahun sudah saya mengenal Kai. Tiga puluh tahun pula Kai mengenal saya. Tidak ada lagi yang dapat kita tutup-tutupi satu sama lain. Kai, kalau boleh saya katakan, sesungguhnya kekhawatiran saya sama dengan kekhawatiran Kai, yaitu kemiskinan. Sekarang ini saya berontak terhadap sistem Kai! Tanah dibeli, rumah dibangun, anak disekolahkan, orang sakit dibayari biaya berobatnya. Itu salah! Begitu Kai pindah, umat Kai menjadi umat yang paling miskin di Dekenat Ampah ini. Saya tidak mau umat paroki yang Kai tempati sekarang ini akan menjadi umat yang paling miskin juga,” sergah saya dengan tegas.

“Saya doakan supaya kamu lenyap dari muka bumi ini,” teriak pastor itu tak kalah garang.

Saya tidak marah. Tapi saya tidak ingin memperpanjang perdebatan dengannya. “Selamat sore Pastor,” kata saya lalu beranjak pulang.

Pada pagi hari setelahnya, sekitar pukul tujuh, pastor itu menelpon,“Fernandez, saya mau bicara dengan kamu.”

“Apa yang bisa saya bantu?” jawab saya mencoba ramah. “ Tapi kalau untuk masalah CU saya tidak punya waktu bagi pastor,” lanjut saya mulai sedikit keras. “Sementara kalau untuk urusan lain, saya siap,” kata saya dengan lebih lembut.

“ Tadi malam saya tidak bisa tidur. Ada yang mau saya sampaikan.”

“ Kita bertemu jam 11 Pastor. Saya tunggu di kantor.”

 Jam 11 pastor itu sudah tiba di kantor CU. Saya segera menghampirinya  dan berbisik kepadanya, “Pastor kalau bisa, kita bicara di pastoran saja. Jangan di kantor CU, nanti ramai.”

Di pastoran sang pastor itu membuka pembicaraan, “Saya minta maaf atas kejadian kemarin… Ternyata perhatian kita sama.”

“Saya tidak dendam. Saya tidak marah. Tapi kalau urusan CU, saya tidak mau diganggu Pastor. Biarlah umat pastor terus miskin saja,” kata saya tegas.

“Saya salah…  Hari ini …,” kata pastor itu. Kutukan apa lagi ini, tanya saya dalam hati.

“Hari ini juga saya minta Bapak Fernandez tangani umat saya,“ kata pastor itu serius dan penuh keyakinan.

Sama sekali di luar dugaan. Begitu cepat pastor ini berubah. Siapa yang mempertobatkannya? Saya pun segera menanggapi permintaannya. Sore itu juga kami berangkat ke paroki yang dipimpin pastor itu. Malam harinya kami sudah bersama-sama memperkenalkan CU kepada umat. Mereka tidak tahu bahwa dua hari sebelumnya kami bertengkar karena CU.

Sekarang CU di paroki pastor ini paling berkembang. Mereka punya aset luar biasa, sekitar Rp 12-13 milyar. 

Dari pengalaman ini saya belajar. Kalau saat kita memperkenalkan CU, kita ditolak, tak perlu kecil hati. Sebaliknya, kita mesti bergembira karena kita akan berjumpa dengan calon anggota yang baik. Mereka menolak karena belum memahami semangat CU. Begitu menangkap roh CU, mereka akan menjadi anggota yang baik betul, bahkan fanatik. Berkali-kali saya mendapat pengalaman macam ini.

 

Omongan orang

Menjadi aktivis CU juga harus tahan terhadap komentar orang. Saat bekerja di kantor CU, saya tak pernah mengenakan baju hem, melainkan kaos berkerah saja. Saya pergi ke tempat kerja naik sepeda motor. Karena penampilan yang macam itu, saat saya bicara tentang kekuatan lembaga CU, banyak orang berpendidikan mencibir dan tidak percaya. Begitu masuk dan melihat laporan kami, baru mereka terkagum-kagum.

Beberapa orang juga berkomentar miring tentang tingkat perekonominan rumah tangga kami. Anda dapat menakar pendapatan saya, seorang guru dengan beberapa hektar kebun karet sebagai aset penambah penghasilan. Kami sering dibanding-bandingkan dengan para pekerja bank yang umumnya punya rumah megah dan mobil bagus. Berhadapan dengan komentar macam itu, saya bilang dalam hati, apa segala sesuatu hanya diukur dari harta benda? Tidak, kata saya. Saya memang tidak kaya, tapi saya bisa membiayai pendidikan anak saya hingga tingkat perguruan tinggi. Sebagai anggota CU, saya juga sudah punya tabungan yang cukup sebagai persiapan hari tua saya. Mau apa lagi?

 

Orang non-Katolik

Ketika kami mendirikan CU Sumber Rejeki kami bermimpi bahwa 90% umat katolik Dekenat Ampah menjadi anggota CU. Impian ini masih terus kami kejar, namun khusus untuk Paroki St Petrus dan Paulus Ampah, impian kami sudah terwujud. Dari 4.200 orang warga gereja, 90% sudah menjadi anggota CU Sumber Rejeki.

Yang di luar bayangan tetapi malah terjadi adalah bahwa lewat CU kami dapat merangkul dan membangun persaudaraan dengan warga non-Katolik. Di Ampah kami tergolong minoritas. Dari 18.200-an anggota CU Sumber Rejeki Ampah, hanya 30% anggota Katolik. Dari 70% anggota non-Katolik itu, 60% beragama Kristen Protestan, sisanya Islam dan Hindu Kaharingan. Maka kami gembira dan bangga bahwa lewat CU kami, umat Katolik, secara nyata melaksanakan perintah Yesus agar menjadi garam di tengah masyarakat.

Upaya untuk menjangkau anggota non-Katolik ini tentu bukan tanpa tantangan. Kadang saya berjumpa dengan beberapa kelompok yang alergi terhadap CU dan menghalang-halangi orang yang ingin menjadi anggota CU. Mereka bilang bahwa CU adalah lembaga orang Katolik, milik pastor.

Ketika ada orang berbicara demikian, di hadapan mereka saya mencabut uang Rp 10.000 atau Rp 50.000 dari dompet. Saya tantang mereka, “Saudara, apakah pada lembaran uang ini ada gambar mesjid atau gereja? Apakah ada gambar pastor? Begitu Saudara belanja, apakah ada orang yang bertanya itu uang dari pastor atau dari haji?”

Kalau saya tantang demikian, mereka biasanya tidak punya kata-kata lagi. Orang non-Katolik yang ingin menjadi anggota CU tetap mendaftar menjadi anggota CU. Mereka tahu bahwa CU akan memberikan banyak manfaat. 

Tentang peran CU dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, saya tidak perlu bercerita di sini. Silahkan Anda bertanya kepada para anggota CU yang Anda kenal, atau membaca kesaksian-kesaksian yang ditulis dalam Rubrik “Pancur CU” di Majalah Kalimantan Review. Pada bagian berikut, saya ingin memusatkan perhatian pada peran CU, atau lebih tepat anggota CU, dalam kehidupan Gereja.

 

Program Paroki Mandiri

Awalnya gerakan CU dirancang sebagai bentuk kepedulian Gereja kepada saudara yang miskin. Setelah gerakan ini berjalan, kami mulai merasakan nikmatnya terlepas dari jerat kemiskinan dan menghirup kebebasan finansial. Setelah dapat bangkit dan berdiri tegak dengan kaki sendiri, kami mulai bertanya, apa yang dapat kuberikan untuk Gereja?

Kami merenda impian baru mengenai Gereja. Inilah impian baru kami: pada 2012 paroki-paroki di Dekenat Barito mandiri dalam hal dana. Selama ini untuk membiayai kegiatan umat, paroki kami masih mendapat subsidi dari keuskupan. Selain mandiri dalam hal dana, kami juga ingin mandiri dalam hal tenaga. Kami akan menyekolahkan tenaga-tenaga pelayan Gereja.

Guna mewujudkan impian Paroki Mandiri ini, kami duduk bersama untuk melihat peta kekuatan umat. Kami menghitung kebutuhan paroki kita tiap bulan, lalu membuat cash flow  atau arus kas. Dari situ kami membuat skema untuk menyediakan dana yang akan menutup seluruh biaya operasional paroki.

Program ini dilaksanakan dengan fasilitas dan kerjasama dengan CU. Skema yang kami buat demikian: setiap keluarga Katolik yang sudah menjadi anggota CU meminjam Rp 1 juta ke CU. Uang pinjaman ini langsung dimasukkan ke rekening paroki. Setiap bulan keluarga itu mengangsur pinjaman itu ke CU hingga lunas. Kalau diangsur selama 24 bulan, tiap bulan satu kepala keluarga hanya mengangsur Rp 50.000. Angka ini bukan masalah untuk mereka yang sudah menjadi anggota CU satu atau dua tahun. Selama mengangsur, bahkan juga setelah angsuran lunas, warga ini tak perlu mengisi amplop sumbangan untuk Gereja. Dengan kata lain, mereka menyumbang cukup Rp 1 juta sekali untuk selamanya.

Uang paroki ini disimpan pada salah satu produk CU yang memberikan bunga 1,25% per bulan. Dalam waktu lima tahun ke depan, simpanan itu sudah akan naik 100%. Saat itu dana paroki sudah akan mencapai Rp 6 milyar. Inilah yang kemudian dijadikan sebagai dana abadi. Setelah itu paroki boleh memakai bunganya, yaitu kira-kira Rp 75 juta per bulan. Ini sudah cukup untuk membiayai semua kegiatan paroki kami. Dengan demikian, selamat tinggal amplop sumbangan untuk Gereja. Mereka yang belum jadi anggota CU, tentu saja tidak bisa ikut program ini. Apakah kepada mereka masih akan diedarkan amplop sumbangan untuk Gereja? Lihat saja nanti.

Itulah salah satu terobosan yang kami – para anggota CU – buat sebagai wujud tanggung jawab kami terhadap gereja. Program ini sudah berjalan satu tahun dan dilaksanakan oleh tiga paroki di Dekenat Ampah.

Selain program Paroki Mandiri, kami juga punya pengalaman membangun satu gereja senilai Rp 200 juta dengan memanfaatkan uang pinjaman dari CU. Skemanya mirip cara di atas. Mereka yang sudah menjadi anggota CU meminjam ke CU. Pinjaman ini atas nama beberapa orang anggota CU, karena di CU pinjaman atas nama lembaga tidak diperbolehkan. Uang tunai pinjaman dipakai untuk membiayai pembangunan gereja, sementara panitia menggalang dana dan menyetorkan dana yang sudah terkumpul untuk mengangsur pinjaman di CU. Dengan cara ini, penggalangan dana berjalan seiring dengan pembangunan. Dalam waktu singkat gereja baru bisa berdiri. Dari pengalaman, setelah gereja berdiri, ternyata lebih mudah mengumpulkan uang. Umat sudah merasakan sendiri manfaat gereja itu, malu kalau mereka tidak menyumbangkan sesuatu. Uang yang terkumpul dipakai untuk melunasi pinjaman di CU.

 

Inovasi CU di Kalimantan

Sekarang saya menceritakan beberapa alasan mengapa CU di Kalimatan berkembang pesat. Intinya kami selalu melakukan inovasi yang sungguh menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam anggaran kami, kami menyediakan pos Dana Promosi. Dari pos ini kami membuat produk-produk menarik untuk menjaring anggota baru dan mendorong anggota lama untuk meningkatkan saldo tabungan. Beberapa di antaranya produk: Saulin, SRI, BAS dan bonus untuk anggota yang mau menikah.

Saulin (Santunan Ibu Bersalin). Produk ini dirancang untuk menyemangati anggota agar sedini mungkin mempersiapkan uang untuk biaya kelahiran anak. Ibu-ibu berusia subur didorong untuk menabung hingga saldo di atas Rp 5 juta. Mereka boleh meningkatkan tabungan dengan cara pinjaman kapitalisasi, yaitu pinjam dari CU tetapi uangnya tidak dibawa pulang melainkan ditabung kembali. Saat anak lahir, bayi dari ibu yang telah menjadi anggota CU tersebut akan mendapat bonus Rp 500.000. Uang ini tidak diambil, tetapi dipakai sebagai modal simpanan keanggotaan si bayi. Dengan demikian, begitu lahir bayi ini telah menjadi anggota CU. Inilah inovasi cerdas untuk menjaring anggota baru. 

Sementara itu, ibu yang bersalin tetap diperhatikan. Mereka mendapat Santunan Rawat Inap (SRI) sejumlah Rp 50.000 per malam. Jika bersar tabungan mereka antara Rp 9-15 juta, santunan mereka meningkat menjadi Rp 75.000 per malam, dan bertambah lagi menjadi Rp 100.000 per malam apabila tabungan mereka di atas Rp 15 juta.

Untuk mendampingi anak yang menjadi anggota CU sejak bayi supaya antusias dan bangga sebagai anggota CU, dibuatlah produk Bantuan Anak Sekolah (BAS). Bapak atau ibu dari anak yang sudah menjadi anggota CU diberi saran untuk meminjam Rp 5 juta. Pinjaman ini tidak dibawa pulang, tetapi dimasukkan dalam tabungan anak yang baru lahir tadi. Seorang anak sekolah (TK-SMA) yang sudah mempunya saldo tabungan lebih dari Rp 5 juta mendapat beasiswa dari CU sebesar 25.000 per bulan. Beasiswa ini dimasukkan ke tabungan mereka. Kalau uang ini tidak diambil, ketika lulus SMA tabungannya sudah akan menjadi sekitar 16 juta. Jumlah yang lumayan bukan? Bisa untuk tambahan biaya masuk perguruan tinggi.

Setelah lulus kuliah, lalu bekerja, anggota ini siap untuk berumah tangga. Kalau tabungan mereka masih di atas Rp 5 juta, mereka akan mendapat bonus Rp 500.000 untuk tambahan biaya perkawinan nanti.

Kalau kita lanjutkan skema ini, mesti dikatakan bahwa CU akan terus mendampingi anggota hingga meninggal. Saat meninggal nanti, anggota akan meninggalkan tabungan bagi ahliwaris mereka. Selain tabungan, CU masih akan menambahkan santunan kematian sebesar simpanan, maksimal Rp 25 juta. Inilah yang kami sebut sebagai program “orang mati membantu orang hidup”.

 

Kata Akhir

Sekarang ini saya menjabat sebagai Ketua CU Sumber Ampah untuk periode kedua atau periode terakhir. Kami tahu betul bahwa kelangsungan CU tidak boleh bergantung pada figur. Saya sudah akan menyelesaikan masa jabatan saya, tetapi bersama teman-teman saya sudah menyiapkan kader-kader untuk kepengurusan baru. Lewat berbagai pelibatan pada gerak CU dan aneka pelatihan, mereka sudah siap mengambilalih tanggung jawab yang dulu kami emban.

Sebentar lagi saya juga akan memasuki masa pensiun sebagai pegawai negeri. Saya akan mempergunakan sisa hidup saya untuk mengembangkan CU di seluruh Indonesia. Beberapa keuskupan sudah mengundang saya untuk merintis CU di wilayah mereka. Saat ini saya juga ikut dalam Tim untuk menyehatkan beberapa CU yang bermasalah dan kurang berkembang. Seperti tanaman, supaya berkembang dan berbuah, perlu dirawat, CU pun demikian. Mengembangkan dan merawat CU selain CU Sumber Rejeki, mungkin itulah panggilan saya untuk masa yang akan datang. Saya berharap rahmat Allah yang dialirkan melalui CU dapat menjangkau semakin banyak orang. Semoga Anda pun tergerak untuk terlibat dalam usaha mengalirkan rahmat ini.

 

Salam

Dominikus D. Fernandez

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.